Manusia Tertua Dimakamkan Berdampingan dengan Putrinya

Jenazah Mbah Gotho saat disemayamkan di rumah duka.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Fajar Sodiq

VIVA.co.id – Sodimejo alias Mbah Gotho yang merupakan manusia tertua di dunia asal Sragen telah meninggal dunia pada Minggu kemarin. Kini, jasad Mbah Gotho telah dikebumikan berdampingan dengan makam sang putri tercinta.

Manusia Tertua Keempat di Dunia dan Tertua di AS Meninggal Dunia

Pantauan VIVA.co.id, Senin, 1 Mei 2017, ratusan pelayat menghadiri prosesi pemakaman jenazah Mbah Gotho yang dimakamkan di pemakaman umum yang tak jauh dari kediamannya di Cemeng, Segaran, Sambungmacan, Sragen.

Para pelayat tampak memberikan penghormatan terakhir kepada Mbah Gotho yang telah dimasukkan ke dalam peti jenazah. Tak hanya kerabat dan warga sekitar, Wakil Bupati Sragen Dedy Endriyatno dan Ketua DPRD Sragen Bambang Samekto juga ikut memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum dengan tabur bunga di peti jenazah.

10 Manusia Tertua dalam Sejarah

Prosesi upacara pemakaman diawali oleh kebaktian yang dilakukan oleh sejumlah pemeluk agama Kristen. Kebaktian tersebut dipimpin oleh seorang pendeta. Kemudian satu per satu, para jemaat pun ikut menaburkan bunga mawar kepada jenazah Mbah Gotho yang mengenakan setelah jas lengkap serta sepatu.

Setelah itu, prosesi dilanjutkan dengan pelepasan jenazah yang dipimpin oleh tokoh masyarakat setempat. Sebelum dimasukkan ke dalam mobil jenazah, sejumlah kerabat seperti cucu, cicit dan canggah melakukan prosesi bludusan melalui bawah peti jenazah yang telah diangkat.

Kakek Ini Pegang Rekor Manusia Tertua yang Sembuh COVID-19

Iring-iringan pelayat pun langsung berjalan mengikuti mobil jenazah menuju tempat peristirahatan terakhir Mbah Gotho di pemakaman umum Tanggung, Grasak, Plumbon, Sambungmacan. Pemakaman tersebut hanya berjarak sekitar 400 meter dari kediaman Mbah Gotho.

Jenazah Mbah Gotho dimakamkan berdampingan dengan makam salah satu anak perempuannya yang telah meninggal pada 1992. Makam Mbah Gotho dan putrinya itu berdampingan dalam satu cungkup di pemakaman tersebut.

Salah satu cucu Mbah Gotho, Suryanto mengatakan, keinginan Mbah Gotho untuk dimakamkan berdampingan putrinya itu telah diutarakan puluhan tahun silam.

 "Mbah Gotho inginnya dimakamkan satu cungkup dengan ibu saya (putri Mbah Gotho dari istrinya keempat). Cungkup itu dibuat ketika memperingati 1000 hari ibu saya pada 1995 lalu," kata Suryanto di rumah duka.

Lantas, setelah dibuatkan cungkup, di samping makam putrinya itu memang dikosongkan karena akan menjadi makam untuk Mbah Gotho. Akhirnya, keinginan itu terwujud ketika ia dimakamkan berdampingan dengan putrinya yang bernama Sutirah yang ketika meninggal pada 1992 berusia 60 tahun.

"Sekarang Mbah Gotho menempati makam di dekat ibu saya itu. Cungkup ibu saya itu memang ada di ujung barat dari pemakaman itu," ujarnya.

Selama hidup, Mbah Gotho pernah menikah sebanyak empat kali. Dari hasil pernikahan itu memiliki lima anak, 25 cucu, 27 cicit serta 12 canggah. (ase)

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya