TUTUP
TUTUP
VIVABOLA

Meski Tanpa Voters, PSSI Tetap Gelar Kongres di Makassar

PSSI habiskan dana hingga Rp6 miliar untuk kongres ini.
Meski Tanpa Voters, PSSI Tetap Gelar Kongres di Makassar
Ilustrasi Kantor PSSI (ANTARA/Hafidz Mubarak A.)

VIVA.co.id - Terkait tempat penyelenggaraan Kongres Biasa, PSSI tetap mempertahankan sikap untuk menggelarnya di Makassar, 17 Oktober 2016. Meskipun, hingga saat ini Makassar belum jadi panggung final penyelenggaraan kongres.

Belum jelasnya tempat penyelenggaraan kongres, terkait keluarnya rekomendasi Kemenpora tanggal 9 September 2016. Kemenpora menyarankan agar PSSI menggelar kongres di Yogyakarta, dengan alasan Kota Pelajar adalah tempat lahirnya PSSI.

Tetap kukuhnya sikap PSSI untuk menggelar kongres di Makassar, tak lepas dari alasan untuk tidak bertentangan dengan statuta. Sebab, andai kembali melanggar statuta bukan tak mungkin sanksi akan kembali dijatuhkan pada Indonesia.

"Yang jelas, kita tetap akan membuka kongres tanggal 17 Oktober nanti, dengan ada atau tidak adanya voters. Karena perwakilan FIFA dan AFC akan datang," ujar Tony Aprillany, anggota Komite Eksektutif (Exco) PSSI kepada wartawan, Selasa 11 Oktober 2016 sore WIB.

"Tapi, kalau memang kongres itu tidak quorum, sesuai aturan kita bisa tunggu 1x24 jam. Jika masih tidak juga quorum maka sidang akan pending selama 40 hari. Di situ mungkin kita akan pertimbangkan lagi untuk pindah ke Yogya. Mungkin saja AFC dan FIFA bisa berubah pikiran dan merestui kongres digelar di Yogya," katanya.

Selain itu, Tony juga menjelaskan perihal anggaran dana yang besar untuk menggelar kongres. Diungkap mantan anggota DPR RI ini, PSSI menghabiskan dana sebesar 5-6 miliar Rupiah untuk setiap penyelenggaraan kongres. Hal ini juga yang jadi alasan mengapa PSSI bersikeras untuk mempertahankan Makassar sebagai tempat digelarnya kongres.

"Biayanya itu sekitar Rp5-6 miliar. Coba, seandainya dipindah, berapa banyak lagi dana yang harus dikeluarkan. Dengan kondisi yang sedang sulit seperti sekarang, jelas ini jadi harus jadi pertimbangan kami," kata Tony.

"Jadi, kami sekali lagi bukannya ingin menentang rekomendasi pemerintah. Tapi kami juga sebenarnya berupaya untuk mencari jalan terbaik mengenai hal ini," sambungnya.

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP