TUTUP
TUTUP
VIVABOLA

'Harga Mahal' Kongres PSSI

Lokasi penyelenggaraan kongres masih menjadi polemik.
'Harga Mahal' Kongres PSSI
Ilustrasi Kongres Luar Biasa PSSI 2016 (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

VIVA.co.id – Polemik penentuan lokasi Kongres PSSI untuk memilih Ketua Umum periode 2016-2020 masih berlanjut. Kepengurusan otoritas tertinggi sepakbola Tanah Air yang dipimpin Hinca Panjaitan itu kembali melakukan manuver.

Mereka menolak mengikuti keinginan pemerintah yang diwakili Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), untuk melangsungkan kongres di Jakarta. Sebab, keinginan itu akan berlawanan dengan statuta PSSI, yang menyebut lokasi penyelenggaraan kongres harus ditentukan delapan pekan sebelum pelaksanaan.

Kondisi ini berisiko tinggi menimbulkan konflik lanjutan. Andai kongres tetap dilaksanakan di Makassar, PSSI sudah pasti tak bisa melangsungkannya, karena belum mengantongi izin dari pihak Kepolisian yang keluar, jika ada rekomendasi dari Kemenpora.

Jika hal tersebut dilaporkan kepada FIFA, apa yang terjadi di Makassar, bisa menjadi alasan untuk menjatuhkan sanksi kembali. Lembaga tertinggi sepakbola dunia tersebut, bisa menganggap tidak ada keseriusan dari para pemangku kepentingan di Indonesia dalam membenahi konflik yang pernah terjadi sebelumnya.

"Nanti, kalau tetap dipaksakan di Makassar dan tidak ada izin, dan perwakilan FIFA datang kemudian marah karena merasa dipermainkan, dan (melihat) tidak ada kejelasan di sini," kata Manajer Persib Bandung, Umuh Muhtar, saat dihubungi VIVA.co.id, Jumat 14 Oktober 2016.

"Kan sudah jelas di Makassar tidak ada izin, dan sekarang sudah setuju ambil jalan tengah. Sebetulnya kemarin, Hinca sudah bicara kepada semuanya dan menyetujui di Jakarta. Tetapi, kenapa saat ini malah bersikeras di Makassar," lanjutnya mengkritik manuver Hinca.

Terkait dengan hal ini, dikatakan Umuh pihak Kelompok 85 yang selama ini mendesak agar PSSI menggelar kongres untuk menggantikan posisi La Nyalla Mattalitti akan melakukan pertemuan. Mereka sadar, risiko tinggi akan dihadapi andai polemik ini tak diselesaikan.

Apalagi, sebelum PSSI mengumumkan sikap Makassar tetap menjadi lokasi kongres 17 Oktober 2016 mendatang, Hinca sudah mengamini kesepakatan. "Sebetulnya kemarin, Hinca sudah bicara kepada semuanya dan menyetujui di Jakarta. Tapi kenapa saat ini, malah bersikeras di Makassar," ujar Umuh.

GH Sutedjo selaku juru bicara Kelompok 85 telah mengeluarkan siaran pers. Dia mengatakan, pihaknya telah mencabut mandat kepada Hinca sebagai Plt Ketua Umum PSSI, karena dianggap tidak mampu mengakomodir masukkan dari para anggota.

Kecurigaan pun muncul. Karena, kepengurusan PSSI saat ini sudah merasa tak punya suara untuk masuk dalam kepengurusan, mereka sengaja mencari celah yang dapat menjadi masalah. Dengan begitu, kepengurusan berikutnya akan mengemban tugas yang amat berat.

Umuh tak memungkiri spekulasi tersebut. Dia pun menyatakan akan tetap datang ke Makassar untuk mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan, terutama memberi penjelasan kepada FIFA, agar informasi yang didapat terkait batalnya kongres dilaksanakan lebih jernih.

"Kalau seandainya dipaksakan di Makassar, Kelompok 85 masih akan tetap jalan. Soal tidak ada izin, nanti dibicarakan saja (ke FIFA). Ini kan, demi memperbaiki semua," katanya. (asp)

KOMENTARI ARTIKEL INI
TERKAIT
BACA ARTIKEL MENARIK LAINNYA
Load More...
TERPOPULER
TUTUP