Mobil Sapu Angin Karya ITS Siap Berlaga di London

Mobil sapu angin karya mahasiswa ITS
Sumber :
  • VIVA.co.id/Januar Adi Sagita

VIVA.co.id – Mobil karya tim mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya akan kembali berlaga dalam ajang internasional. Kali ini, tersebut akan bertanding dalam kompetisi Shell Eco-Marathon Drivers World Championship kategori Urban Concept di London, Inggris, pada 30 Juni 2016.

Mobil Balap Sapu Angin Buatan ITS Mau Berlaga di Jepang

Pemimpin Tim XI ITS, Rizkiardi Wilis Prakoso mengatakan, tim tersebut akan menjadi wakil Indonesia melawan negara dari tiga benua. Di antaranya Eropa, Amerika, dan Asia.

Menurut dia, kompetisi itu akan jauh lebih berat jika dibandingkan dengan kompetisi lainnya ynag pernah diikuti oleh Sapu Angin. “Bahkan, kalau dibandingkan dengan pertandingan yang di Filipina beberapa waktu lalu, tampaknya tingkat kesulitan waktu di London nanti akan bertambah,”kata Rizkiardi di ITS, Surabaya, kemarin.

Sapu Angin Gagal Berlaga di London, ITS Tetap Bangga

Sebab, di Filipina panitia memberikan batasan waktu bagi kendaraan. Selanjutnya, akan dihitung tingkat penghematan bahan bakar yang digunakan oleh kendaraan tersebut.

“Kalau di London sistemnya berbeda. Bahan bakarnya dibatasi terlebih dahulu, lalu diminta bertanding dengan peserta lainnya. Nanti bahan bakar itu yang akan digunakan untuk berlomba menempuh jarak sejauh 17 kilometer dalam 43 menit,” kata Rizkiardi.

Mobil Sapu Angin Resmi Didiskualifikasi dari Lomba di London

Tidak hanya itu, perlombaan itu juga memiliki tantangan lainnya yang juga tidak bisa dianggap enteng. Trek yang digunakan dalam kompetisi itu bukanlah trek datar, melainkan terdapat beberapa trek menanjak, dan menurun.

“Tapi yang seperti itu justru akan menjadi pemicu semangat kami untuk memberikan yang terbaik, dan meningkatkan kemampuan mobil ini,”ujar Rizkiardi.

Rektor ITS, Joni Hermana mengungkapkan kebanggannya terhadap prestasi yang ditorehkan mahasiswanya itu. Sebab, turnamen itu merupakan sebuah turnamen bergengsi tingkat dunia.

“Ini jelas sebuah beban besar bagi kami, tapi sekaligus jadi kebanggaan karena bisa mewakili Asia dalam kompetisi itu,” kata Joni.

(ren)

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya