Malware 'Doyan' Serang Perangkat Windows

Ilustrasi malware.
Sumber :
  • uk.reuters.com

VIVA.co.id - Perusahaan antivirus Kaspersky Lab kembali merilis mengenai dampak buruk peranti lunak berbahaya yang menjangkit perangkat. Dari laporannya itu, pengguna harus merogoh kocek hingga jutaan rupiah untuk memperbaiki perangkat dari

Penelitian yang dilakukan oleh Kaspersky Lab dan B2B International pada tahun lalu menemukan fakta hampir setengah dari pengguna Internet (45 persen) harus berhadapan dengan peranti lunak berbahaya. Dan pada kebanyakan kasus (81 persen) berdampak buruk terhadap pengguna dan perangkatnya.

Menurut keterangan tertulisnya, Selasa, 29 September 2015, dalam penelitian itu terungkap, malware paling sering melekat di komputer berbasis Windows. Setidaknya, ada 83 persen pengguna sistem operasi kepunyaan Microsoft itu telah terpengaruh dampak selama 12 bulan terakhir.

Selain itu, perangkat berbasis Android dan Mac OS X pun tak luput dari jangkitan malware, yang mana masing-masing pengguna sebesar 13 persen dan 6 persen menyatakan telah terinfeksi.

Riset menunjukkan malware tersebut berasal dari beragam sumber. Dari penelitian, Kaspersky menyatakan, 12 persen pengguna percaya perangkat mereka terinfeksi setelah mengunjungi situs mencurigakan, memakai flash disk USB milik orang lain, perangkat terinfeksi lainnya.

Kemudian, instalasi aplikasi berbahaya yang tersamarkan sebagai program resmi berkontribusi sebesar 8 persen sebagai penyebab infeksi. Sementara itu, 7 persen responden lainnya dari survei mengatakan perangkat mereka terinfeksi setelah membuka lampiran surel.

Uniknya, jawaban terbanyak, sebesar 13 persen, tidak dapat menjelaskan mengapa perangkat mereka dapat terinfeksi malware. Hal ini mengidentifikasikan kalau pengguna masih belum peduli terhadap perangkatnya.

Perusahaan asal Rusia itu menyebutkan, 4 dari 5 infeksi secara signifikan menyebabkan masalah bagi korban. Paling sering (35 persen dari keseluruhan kasus), pengguna menyadari performa komputer mereka melambat, 30 persen responden mengalami banjir iklan yang tidak diinginkan (misalnya, browser mengarahkan mereka ke situs yang tidak diinginkan) dan 20 persen responden menemukan program yang tidak diinginkan di perangkatnya.

Di antara semua dampak-dampak negatif ini, yang paling berbahaya adalah perubahan dalam browser atau pengaturan sistem operasi tanpa sepengetahuan si pengguna (17 persen), kerugian (10 persen), atau pencurian data pribadi (8 persen). Selain itu, publikasi tanpa izin atau "like" di media sosial (9 persen) dan peretasan webcam (6 persen).

Ini Bukti Sistem Keamanan Informasi RI Lemah

Virus pemalak

Responden juga menyinggung adanya tebusan yang harus mereka bayarkan kepada penjahat siber untuk membuka blokir perangkat (11 persen dari seluruh kasus) atau deskripsi data pribadi (6 persen) setelah terinfeksi malware pemalak (ransomware). Secara keseluruhan, setiap pengguna ketiga (33 persen) mengalami kerugian finansial akibat infeksi malware.

Selain harus membayar tebusan, korban juga harus mengeluarkan uang untuk memulihkan perangkat atau data, menghilangkan efek samping infeksi pada peranti lunak, dan beberapa bahkan harus membeli perangkat pengganti. Ketika terjadi kerugian finansial, jumlah rata-rata biaya setiap serangan adalah sebesar US$160.

Head of Consumer Product Management, Kaspersky Lab, Elena Kharchenko, mengatakan, biaya dan efek tak menyenangkan dari sebuah infeksi malware dapat dihindari dengan sedikit sikap bijaksana. Contohnya, jangan menghubungkan USB yang tidak terverifikasi pada perangkat, hanya gunakan toko aplikasi resmi, menjaga sistem operasi dan aplikasi up to date dan pemindai data-data dengan program sekuritas sebelum membukanya.

"Kemampuan untuk memprediksi segala sesuatu yang berpotensi menjadi masalah dan mengambil langkah pencegahan adalah kunci agar tetap aman,” kata dia.

Hati-hati, Pesan Teks Ini Bisa Matikan Ponsel Android Anda

Untuk menyembuhkan malware yang menjangkit perangkat, Kaspersky mengklaim memiliki obat penyembuhnya, seperti Kaspersky Internet Security. Solusi tersebut dapat melindungi perangkat berbasis Windows, OS X dan Android yang dirancang untuk melindungi dari berbagai jenis ancaman, termasuk malware yang menyadap password, percobaan akses tanpa izin ke webcam, cryptomalware, dan kerentanan di aplikasi-aplikasi populer. (art)

Ilustrasi ransomware/malware.

Nyaris Semiliar Ponsel Android Terancam Malware Baru

Malware baru itu dinamakan QuadRooter.

img_title
VIVA.co.id
9 Agustus 2016