INDEPTH > SOROT
Jumat, 4 Oktober 2013 20:56 WIB

Pesan Tak Pasti BlackBerry Messenger

Oleh : Muhammad Chandrataruna, Tommy Adi Wibowo

VIVAnews - "PING!" Di atas meja belajar, ponsel pintar itu bergetar. Ada pesan teks yang masuk, dan Arif bergegas meraih ponsel. Dia lalu menyapu layarnya. "PING!" begitu bunyi pesan teks terbaca, khas BlackBerry Messenger.

Pesan itu dari rekannya, yang kerap menjadi teman ngobrol di BBM ketika dia masih memakai ponsel BlackBerry. Tapi, sejak menukarnya dengan iPhone baru, entah kenapa Arif jarang menghubungi sang rekan.

Sesekali mereka mencoba berhubungan di aplikasi lain, seperti di WhatsApp Messenger. Namun, tidak sesering dulu. Boleh jadi pengalaman dirasakan berbeda. Obrolan ngalor-ngidul pun sempat "puasa."

Tapi, kini Arif dan sang rekan boleh bernostalgia. Aplikasi chatting BlackBerry Messenger, yang sempat meledak di Indonesia setengah dekade lalu itu, kini sudah tersedia di ponsel pintar Apple, iPhone sejak dua pekan silam.

Dia sudah boleh diunduh seluruh pengguna iPhone di penjuru dunia. Itu artinya aplikasi BBM bukan lagi aplikasi chit-chat eksklusif, yang hanya bisa dipakai pengguna ponsel BlackBerry.

Kalau memakai iPhone, Anda boleh turut sumringah seperti Arif, karena bisa mengunduh BBM di Apple App Store. Gratis alias tidak usah bayar. Tinggal unduh dan instal. Selesai.

Asyiknya, aplikasi BBM di iPhone tak perlu repot-repot berlangganan seperti paket BlackBerry yang dijaja para operator seluler. Rp90.000 per bulan, Rp5.000 per hari, atau semacamnya. Di iPhone, syaratnya hanya satu, sistem operasinya minimum Apple iOS 6 ke atas.

Bagi yang kurang mujur, alias tidak punya iPhone, tak usah berkecil hati. Dalam bincang-bincangnya dengan VIVAnews, 1 Oktober 2013 silam, BlackBerry mengabarkan, tim pengembang di kantor pusat Kanada saat ini tengah bekerja keras. Mereka menggodok aplikasi BBM untuk Android. Sekarang ini belum matang.

"Tak akan lama lagi, BBM roll-out di perangkat Android," ujar Ardo Fadhola, Senior Country Product Manager BlackBerry Southeast Asia, saat ditemui di Plaza Senayan, 1 Oktober 2013 silam. "Mungkin satu atau dua minggu lagi. Kita lihat saja nanti," katanya.

Omong kosong?

Semoga BlackBerry tidak hanya sesumbar. Sebab, ini bukan kali pertama vendor dari Kanada itu menebarkan omong kosong ke para penggemarnya di sekujur bumi.

Di Jakarta, 19 September lalu, BlackBerry —yang dulunya bernama Research In Motion (RIM)— mengatakan akan merilis BBM berbasis iOS dan Android tepat pada 21 September 2013. Nyatanya, BlackBerry ingkar. Ditunggu sampai waktu dijanjikan, BBM untuk Android tak kunjung datang.

BlackBerry pun berkilah. BBM untuk Android versi Beta dikatakan telah bocor di jagad maya, sebelum waktu peluncuran, sehingga diserbu 1,1 juta pengguna global.

"Sistem kami langsung crash. Itu penyebab kami menunda semuanya. Versi Beta itu untuk uji coba. Peruntukannya terbatas, bukan untuk komersial. Kalau diserbu jutaan orang jadi kacau," kata Ardo.

Sampai hari ini, BlackBerry Messenger lintas-platform masih teka-teki. Tak terdengar lagi jadwal resmi peluncurannya. Janji CEO BlackBerry Thorsten Heins bahwa BBM berbasis iOS dan Android akan hadir Mei silam, juga terbukti nihil.

Akibatnya, penggemar kecewa. BlackBerry pun panen hujatan. Usaha meredam kekacauan itu dilakukan Blacberry dengan kicauan di media sosial Twitter. "Masih berkomitmen 100% akan menghadirkan #BBM ke Android dan iPhone. Registrasi di BBM.com untuk mengetahui kapan #BBM4All dirilis," kicau BlackBerry, 30 September 2013.

Tak jelas, apakah masih banyak yang tergoda. Banyak pertanyaan muncul apakah BlackBerry akan serius bermain di pentas pesan instan lintas-platform. Yang jelas, "kue" besar itu masih bisa dibagi-bagi. Sebab, dibandingkan jagat ponsel, pemain raksasanya relatif lebih sedikit. Baru ada WhatsApp, LINE, KakaoTalk, WeChat, Skype, dan Facebook Messenger.

BBM punya modal cukup sebagai pemain aplikasi chat itu. Catatan terakhir, menunjukkan jumlah pengguna BBM di dunia menembus angka 60 juta. Setelah berjalan di platform Android dan iOS, BlackBerry optimistis jumlahnya akan meroket lagi. Sebab, hari ini, pengguna perangkat Android dan iOS di dunia ditaksir sekitar 980 juta pengguna.

"Tahun 2016, penggunanya (iOS dan Android) diramalkan 2,5 miliar orang. Itu adalah potensi market besar untuk kami (BlackBerry)," ujar Krishnadeep Baruah, Senior Director Marketing BlackBerry Messenger Asia Pasific, beberapa pekan lalu.

Sekarang ini, sebagai bandingan, pengguna LINE secara global mencapai 240 juta, WeChat 300 juta, WhatsApp 200 juta lebih, Viber 200 juta, KakaoTalk 80 juta, Facebook Messenger 56 juta, Skype 240 juta, dan iMessage 140 juta.

Masa depan

Dibandingkan posisi puncak, WeChat, BlackBerry jelas tertinggal jauh di belakang. Ini akibat status BBM yang eksklusif, berjalan hanya di perangkat BlackBerry. Untung, vendor Kanada ini belum sampai krisis percaya diri. BlackBerry optimis menatap ceruk pasar yang besar, di mana BBM bisa digodok jadi lebih besar lagi.

"Ini potensi bisnis baru bagi BlackBerry. Akan hadir beberapa fitur menarik di dalam BBM untuk menggaet pengguna. Tapi, masih rahasia," kata Ardo.

Pada pembaca VIVAnews, dia berbagi secuplik wajah BBM di masa depan. Pertama, BlackBerry akan memperkenalkan BBM Channels. Mirip Facebook Fanpage dan Twitter, yang di dalamnya terdapat channel-channel milik brand tertentu. Sebut saja Starbucks Coffee, Debenhams, Mothercare, Honda, Telkomsel, Universitas Indonesia, dan jutaan brand sejenisnya.

Singkat cerita, dengan menjadi bagian dari salah satu channel, Anda bisa berinteraksi satu sama lain, mendapatkan info promo, atau menyampaikan kritik sampai keluhan. Semua dilakukan melalui satu pintu: BlackBerry Messenger.

"Kami ingin lebih praktis. Siapapun juga bisa membuat channel sendiri. Baik untuk usaha, atau sekadar komunitas SMA. Ini menjawab kekurangan BlackBerry Group yang hanya menampung 30 orang. Di BBM Channels, jumlah penggunanya tak terbatas. Bisa ratusan, bahkan ratusan ribu," Ardo menambahkan.

BlackBerry juga membolehkan Anda berbagi foto, video, dan tautan. Berkomentar dan saling ngobrol. Persis seperti Facebook Fanpage. Hanya saja ini berjalan di dalam BlackBerry Messenger.

Selain itu, BlackBerry juga akan mengembangkan aplikasi baru yang sifatnya Augmented Reality (AR). Misalnya, aplikasi berbasis lokasi agar pengguna BBM mudah mencari info di sebuah tempat. Misalnya, tempat kongkow, nonton bioskop, atau shopping. Bahkan, Ardo mengatakan fiturnya lebih menarik dari itu. Sayang, dia pelit dengan ‘bocoran’ lain.

Agar menarik kaum muda, BlackBerry juga akan meremajakan emoticon —simbol atau gambar ekspresi wajah manusia—. "Akan ada semacam Sticker, seperti di LINE Messenger. Tapi, kami membuatnya lebih menarik. Lihat saja nanti," ujar Ardo.

Dengan serentetan  fitur baru, BlackBerry terlihat yakin BBM akan meledak. Dengan label "lintas-platform," BBM diramalkan akan jadi primadona, berjalan di hampir setiap ponsel pintar dunia. Setelah proses BBM di iOS dan Android rampung, BlackBerry akan menyuntikkan BBM ke Windows Phone.

"Kami ingin membuka peluang BBM seluas-luasnya. Kami terbuka bagi platform lain, termasuk Windows Phone. Kami ingin semua orang menggunakan, dan turut merasakan pengalaman yang ditawarkan BBM. Tapi, sekarang ini kami fokus di iOS dan Android dulu," ujar Gary Klassen, pencipta layanan BBM, pada Mobile Indian, 2 Oktober 2013 lalu.

Untung atau buntung

Tapi banyak yang bingung dengan model bisnis BBM. Soalnya, BlackBerry melepas produknya dengan gratis di Android maupun iOS. Juga tak ada biaya berlangganan. Hanya ada ongkos Internet, itupun masuk ke kantung operator seluler. Lalu bagaimana BBM bisa menyumbang laba untuk BlackBerry?

Sticker? Fitur emoticon mirip seperti LINE. Kemungkinan besar itu memang berbayar, kurang dari Rp100 ribu per satu tema Sticker. Tapi, rasanya itu saja tidak cukup memberi insensif pada perusahaan yang harus menggaji 7.260 karyawan tiap bulan. Lagi pula, belum tentu semua pengguna mau membelinya.

Tetapi menengok penjualan BlackBerry yang lesu, terutama Z10, BBM bisa menjadi satu harapan penyelamat BlackBerry.

Apalagi di Indonesia. BlackBerry masih populer di nusantara, dan BBM masih mendapat tempat. Bahkan, komunitas pengguna Android pun mendukung. Agus Hamonangan, penggagas komunitas pengguna Android Indonesia atau ID-Android, menuturkan BBM di perangkat Android sudah dinanti-nanti sejak lama.

"Aplikasi ini bisa menghubungkan kembali komunikasi saya, dan beberapa teman lama yang masih menggunakan BlackBerry. BBM seperti menciptakan nuansa nostalgia tersendiri. Saya yakin belasan ribu anggota ID-Android juga merasakan hal yang sama," kata Agus, saat ditemui VIVAnews di sela acara "BBM for Everyone", 19 September silam.

Sepertinya, BBM adalah sekoci penyelamat bagi BlackBerry. Tak jelas apa strategi BlackBerry selanjutnya, dan  apa pula hidden agenda perusahaan itu dengan BBM. Banyak yang masih menunggu teks “PING!” jadi muncul di layar iPhone atau Android mereka.

Kalau ia tak segera hadir, BlackBerry akan tinggal kenangan. (np)