VIVA.co.id

CERITA

Bulan Ramadan dan Air Mata Sang Intelektual di Tanah Rantau

Menuntut ilmu adalah salah satu bentuk jihad melawan kebodohan.
Bulan Ramadan dan Air Mata Sang Intelektual di Tanah Rantau
Julkarnain Rajak (U-Report)

VIVA.co.id – Angin keberkahan dan kesucian bulan Ramadan kini telah menyelimuti umat Islam di seluruh Indonesia. Berbagai aktivitas amaliah pun telah menjadi spirit umat Islam untuk membangun misi hidup yang sesungguhnya. Hal ini terlihat ketika banyak orang berbondong-bondong melakukan ritual rohaniah seperti salat 5 waktu, memberi makan anak yatim sebagai amaliah sosial, dll.

Bulan suci Ramadan adalah satu bulan yang dipersiapkan Allah untuk umat Islam sebagai bulan yang suci, bulan yang penuh magfirah, dan bulan yang penuh tobat. Bulan suci Ramadan juga memberikan pelajaran kepada umat Islam agar kita harus mengnyinergikan antara hubungan seorang hamba dengan Allah dan sesama umat manusia. Hal ini tentunya termanivestasi dari salat, puasa, dan zakat.

Di samping itu, bulan suci Ramadan juga merupakan momen untuk berkumpul dengan keluarga dan sahabat-sahabat di kampung halaman masing-masing. Akan tetapi sebagian orang kadang tidak bisa bertemu dengan keluarga dan sahabat di kampung halamannya, dikarenakan mungkin ada sebab yang membuatnya tak bisa pulang.

Saya yang notabene sebagai mahasiswa tahap akhir juga merasakan hal yang sama. Bulan suci Ramadan yang seharusnya menjadi momen berkumpul bersama keluarga dan sahabat kini tak bisa diwujudkan. Masalah akademik yang kini menjadi kesibukan penulis adalah tuntutan moril yang harus diselesaikan. Sementara itu, di ufuk timur Pulau Halmahera tepatnya Desa Loleolamo, Kecamatan Maba Selatan yang merupakan kampung halaman saya kini hanya bisa dibayangkan.

Canda dan tawa keluarga juga tidak bisa didengar dengan jelas, yang jelas hanyalah kegelisahan dan kerinduan saya kepada mereka. Kurang lebih 4 tahun saya di tanah orang menyelami samudra ilmu untuk menjadi sang intelektual yang tangguh, dan akhirnya perjuangan saya akan segera berakhir. Namun, hati saya hari demi hari selalu diwarnai dengan kegelisahan dan kerinduan. Bahkan, saya sempat meneteskan air mata ketika mengingat kampung halaman di ufuk timur Halmahera, Provinsi Maluku Utara yang sekian lama telah ditinggal.

Belum lagi wajah sang ibunda dan adik tercinta yang terus membayangi hari-hari saya. Saya baru sadar bahwa inilah yang dinamakan problem kehidupan yang nanti menjadi sejarah tersendiri bagi saya. Saya juga yakin bahwa dari sinilah saya bisa menjadi dewasa sehingga dapat memahami arti hidup yang sebenarnya.

Menurut saya menuntut ilmu adalah salah satu bentuk jihad melawan kebodohan. Oleh karena itu, saya akan tetap teguh dan istiqamah dalam perjuangan menambah ilmu di Kota Daeng, Makassar, Sulawesi Selatan, meski harus mengorbankan air mata intelektual di tanah orang. (Tulisan ini dikirim oleh Julkarnain Rajak)

KOMENTARI ARTIKEL INI
ARTIKEL TERKAIT
ARTIKEL LAINNYA
getaway

Hitung Zakat Wajib Anda!