Dahlan Iskan
17 Agustus 1951 - Sekarang
Dahlan Iskan

Sosok ini dikenal gila kerja. Hasil kerja gilanya mengantar Dahlan Iskan memiliki media di seluruh Indonesia dibawah Jawa Post Group. Tak hanya itu, ia pun diangkat menjadi menteri BUMN. 

Penampilan Dahlan Iskan tetap sederhana meski menjadi menteri. Ia tetap memakai  sepatu ket. Cara bicaranya pun ceplas ceplos. Ia juga dekat dengan karyawan bawahannya, bahkan kadang ia mengajak makan bareng dengan bawahannya saat ia menjadi menteri. "

Setiap bulan puasa pada tahun 2012 dan 2013, ia selalu pada buka puasa hari pertama dengan OB, satpam, dan Sopir. "Ya, mereka tumpuan kita sehari-hari," ujar Dahlan, di Kantor BUMN, Jakarta, (11/07/2013).

Dahlan Iskan lahir di Magetan, Jawa Timur pada tanggal 17 Agustus 1951 bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia ke-6. Sebetulnya, itu bukan merupakan tanggal lahir yang sebenarnya. Karena orang tua Dahlan Iskan tidak ingat kapan ia lahir, maka beliau pun memilih tanggal tersebut sebagai hari ulang tahunnya.

Masa kecil Dahlan Iskan dapat dikatakan serba kekurangan. Ia dibesarkan di lingkungan pedesaan kala itu. Masa kecil Dahlan, sapaan akrabnya dapat dikatakan serba kekurangan. Bahkan, saking sulitnya dulu ia hanya memiliki satu celana, baju, dan sarung. Ia dibesarkan di lingkungan pedesaan yang sangat religius.
 
Soal pendidikan, Dahlan menempuh sekolah dasar di SDN Desa Bukur, Jiwan, Madiun. Lalu, ia pun melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Pesantren Saibul Muttaqin dan Madrasah Aliyaj Pesantren Sabibul Muttaqin di Magetan. Dahlan sempat kuliah di Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Cabang, Samarinda meski tidak tamat.

Selanjutnya, Dahlan mengawali kariernya sebagai reporter surat kabar selama satu tahun di Samarinda, Kalimantan Timur. Setahun kemudian, ia menjadi wartawan di Majalah Tempo.

Kariernya terus menanjak, pada tahun 1982, ia pun memimpin surat kabar Jawa Pos. Di era kepemimpinannya, Jawa Pos yang hampir mati pun kembali berdenyut. Pada awalnya, oplah Jawa Pos hanya 6.000 eksemplar, namun dalam kurun waktu 5 tahun, oplah Jawa Pos meningkat menjadi 500.000 eksemplar.
Selang 5 tahun, berdirilah Jawa Pos News Network atau lebih sering dikenal dengan JPNN yang merupakan salah satu jaringan surat kabar terbesar di Indonesia dengan memiliki 134 surat kabar, majalah, dan tabloid serta sekitar 40 jaringan percetakan di seluruh Indonesia.

Aksi Dahlan masih berlanjut, pada tahun 1997, ia mendirikan gedung Graha Pena di Surabaya dan Jakarta. Lalu, pada tahun 2002 ia mendirikan TV Lokal bernama JTV di Surabaya, lalu dlanjutkan dengan Batam TV di Batam serta Riau TV di Riau.

Pada tahun 2007, Dahlan harus menghadapi operasi transplantasi hati dikarenakan ia mengidap penyakit. Ia mendapat donor dari pemuda Tionghoa berusia 21 tahun. Keberhasilan transplantasi tersebut memberi dampak positif pada dirinya. Ditambah lagi, manusia akan berubah pasca melakukan transplantasi hati. Dahlan menjadi lebih berjiwa muda setelahnya. Kisah ini pun ia tulis dalam buku “Ganti Hati.”

Selang dua tahun kemudian, Dahlan menduduki kursi komisaris PT. Fangbian Iskan Corporindo (FIC) yang membuat Sambungan Komunikasi Kabel Laut (SKKL) yang menghubungkan Surabaya dan Hong Kong dengan panjang serat optik 4.300 kilometer. Lalu, di tahun yang sama pula ia dipercayakan untuk memimpin PLN sebagai Direktur Utama menggantikan Fahmi Mochtar.

Dahlan melakukan berbagai perencanaan dalam kepemimpinannya di antaranya pencanangan gerakan sehari sejuta sambungan, merencanakan pembangunan PLTS untuk 100 pulau di Indonesia Timur seperti Pulau Banda, Manado, Derawan, Wakatobi, dan Citrawangan.

Sepak terjang Dahlan Iskan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat soal listrik tentunya sangat dihargai oleh pemerintah. Pada 17 Oktober 2011, ia pun dipilih Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Di akhir jabatannya, Dahlan Iskan digadang-gadang agar maju pada Pilpres 2014. Ia pun ikut penjaringan capres lewat Konvensi Capres yang digelar Partai Demokrat. Namun, hasil konvensi ini tidak jadi diikutsertakan dalam Pilpres 2014 karena suara tingkat keterpilihan para calon konvensi kurang meyakinkan.

Pada tahun 2015, Dahlan sempat menjadi tersangka kasus dugaan korupsi proyek pengadaan dan pembangunan 21 Gardu Listrik di Unit Induk Pembangkit dan Jaringan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara PT. PLN Persero Tahun Anggaran 2011-2013. Namun, sangkaan tersebut tidak terbukti. Ia bebas dari tuduhan pada bulan Agustus 2015.

KELUARGA
Istri                   : Nafsiah Sabri
Anak                : Azrul Ananda
                          Isna Fitriana

PENDIDIKAN
SDN Desa Bukur, Jiwan, Madiun
Madrasah Tsanawiyah Pesantren Saibul Muttaqin, Magetan
Madrasah Aliyaj Pesantren Sabibul Muttaqin, Magetan
Fakultas Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Cabang Samarinda (tidak tamat)

KARIER
Reporter surat kabar di Samarinda, Kalimantan Timur (1975)
Wartawan majalah Tempo (1976)
Pemimpin Surat Kabar Jawa Pos (1982-2005)
Mendirikan Stasiun Televisi Lokal JTV (2002)
Komisaris PT Fangbian Iskan Corporindo (FIC) (2009)
Direktur Utama PLN (2009-2011)
Menteri Badan Usaha Milik Negara (2011 – 2014)

PENGHARGAAN
Penghargaan dari Charta Politika Award III dalam kategori sebagai pimpinan kementerian paling berpengaruh selama tahun 2011