Perempuan Indonesia Harus Berani Berkompetisi

Linda Darrow dengan dukungan keluarga rutin berlatih sebagai petarung mixed martial arts
Sumber :
  • VIVA.co.id / Fajar Sodiq

VIVA berkesempatan mewawancarai Linda secara khusus saat dia berkunjung ke kantor kami. Berikut adalah petikan wawancara kami dengan wanita berjuluk The Arrow tersebut.

Profesi petarung bagi wanita masih belum umum di Indonesia. Di awal, sempat ada pandangan negatif dari orang atau tidak?

Orang luar itu menganggap ada yang aneh dengan saya. Banyak yang bilang, saya ini lesbian, memiliki kepribadian lain. Sebenarnya sangat mengganggu.

Tapi, saya berusaha untuk tak menjadikannya sebagai pengganggu performa di atas oktagon. Saya pun punya keluarga yang mendukung dan memahami kondisi saya ini.

Faktanya, Anda ini seorang ibu rumah tangga dan punya anak bukan?

Iya, makanya saya bilang, keluarga sangat mendukung saya. Bersyukur punya papa dan mama yang mengerti dengan keinginan saya.

Dua anak saya juga mendukung ibunya. Kerjasama di antara kami terjalin, sehingga tercipta sebuah kondisi yang kondusif dalam kehidupan sehari-hari dan pekerjaan saya sebagai seorang atlet.

Artinya, Anda tak lupa kodrat sebagai seorang wanita. Benar?

Di rumah, ya seperti ibu-ibu lain, dasteran! Hahahaha

Saya sebenarnya juga suka menganalisis kesehatan dan ingin berkecimpung di bidang medis. Itu terbawa sampai sekarang, sering mengingatkan orang sekitar terkait kesehatan mereka.

Soal beladiri, hobi sejak kecil. Sejak kecil sudah belajar gulat, tinju, muaythai, dan jiu-jitsu.

Kalau Anda berlatih dan bertanding, lalu yang mengurus anak siapa?

Papa dan mama saya begitu mengerti kondisi saya. Bersyukur sekali memiliki mereka. Jadi, kami bekerja sama, membantu satu sama lain.

Anak-anak, Rickson Legawa dan Gibran Alfarizi, sebenarnya juga ikut latihan di Han Academy. Jadi kalau latihan ya bareng.

Banyak orang yang bilang, Anda ini adalah inspirasi mereka. Apakah Anda tersanjung?

Saya tak pernah berpikiran untuk menjadi inspirator atau apa pun itu. Saya cuma menjalani apa yang saya suka dan cintai.

Ketika saya melakoninya, saya cuma berpikir, ingin melakukan yang terbaik. Semuanya adalah proses, hasilnya belakangan.

Memang, ketika ketemu beberapa orang, atau teman, mereka sempat bilang "Lindaaaa, kamu inspirasiku." Tapi, sebenarnya saya tak punya pikiran untuk jadi seorang yang diperhatikan. Saya ya apa adanya saya.