Pil Kontrasepsi Pria Sedang Dikembangkan Peneliti Dunia

- Getty Images
Sumber :
  • bbc

Para ilmuwan sudah bekerja hampir selama setengah abad untuk membuat pil kontrasepsi untuk pria.

Sekalipun sudah banyak laporan meggembirakan, versi yang bisa dibeli bebas masih belum tersedia.

Kurangnya pendanaan dan ketidaktertarikan kaum pria menyebabkan produk massal pil kontrasepsi belum bisa diproduksi.

Hingga kini perempuan masih dianggap yang paling bertanggung jawab untuk menghindari kehamilan yang tak diinginkan.

Namun, penelitian memperlihatkan pria sebenarnya menyambut baik pil kontrasepsi seandainya memang tersedia.

Sepertiga pria yang aktif secara seksual di Inggris, seperti pil atau implan. Persentase ini serupa dengan perempuan yang bersedia menjalankan prosedur serupa.

Delapan dari 10 orang yang disurvei menyatakan tanggung jawab terhadap kontrasepsi kehamilan seharusnya di bagi rata antara pria dan perempuan.


Saat ini hanya kondom dan vasektomi yang termasuk dalam kontrasepsi pria yang umum dikenal. - Getty Images

Sementara itu, yang disurvei menyatakan "agak atau sangat" tertarik untuk mencoba kontrasepsi pria selain kondom atau vasektomi.

Apakah dengan penerimaan umum dan peran gender yang semakin luwes, apakah pil kontrasepsi pria akan semakin jadi kenyataan?

Kontrasepsi paling lazim di seluruh dunia

Sekitar sepertiga pasangan usia reproduktif di seluruh dunia tidak menggunakan alat kontrasepsi sama sekali,

Namun ketika mereka memutuskan memakai, alat kontrasepsi perempuan adalah yang paling banyak dipilih.

Sekitar 19% perempuan yang menikah atau memiliki pasangan mengandalkan pada sterilisasi, 14% mengandalkan spiral, 9% pada pil, dan 5% suntikan.

Kontrasepsi pria tidak terlalu umum, yaitu 8% mengandalkan kondom dan hanya 2% vasektomi.

Namun keadaannya tidak selalu demikian.

Sebelum adanya pil, pria lebih banyak berpartisipasi, misalnya dengan kondom. Ketika pil kontrasepsi diproduksi massal untuk pertama kalinya di 1960-an, perempuan bisa mengendalikan kesuburan mereka tanpa sepengetahuan atau keterlibatan pasangan mereka.

Kini lebih dari 100 juta perempuan menggunakan pul, dan ini merupakan kontrasepsi paling umum di Eropa, Australia dan Selandia Baru.

Pil kontrasepsi perempuan di urutan kedua popularitasnya di Afrika, Amerika Latin dan Amerika Utara, serta nomor tiga di Asia.

Beberapa dekade, pil telah membebaskan perempuan, memungkinkan mereka menunda atau menghindari kehamilan untuk meraih kesempatan lain seperti pendidikan tinggi atau karir.