Kolonialisme dan Body Shaming, Apa Hubungannya?
"Kemudian orang Afrika digambarkan rasnya lebih rendah. Mereka juga sensual, senang seks, gemar makan, maka mereka gendut".
` Dua gumpalan agar-agar `
"Pada masa perdagangan budak dan munculnya sains yang mendukung rasisme mulailah muncul anggapan bahwa secara sosial orang non-Barat berbeda dalam hal kelas sosial dan aspek-aspek fisik dan temperamen," kat Strings.
Bangsa Barat lalu mulai melihat ras lain sebagai bahan kajian, memandang mereka sebagai bahan hiburan - bahkan olok-olok.
Salah satu contoh paling terkenal adalah menghina tubuh ""ras Hottentot" - orang Khoikhoi dari bagian selatan Afrika - yang dikatakan memuja pantat kaum perempuan mereka.
Menurut salah satu catatan masa itu, "ketika kaum perempuan suku itu berjalan, penampilannya sangatlah konyol. Setiap gerakan diiringi dengan bergetarnya dua gumpalan agar-agar di bagian belakang tubuh mereka."
Sarah Baartman, yang dijuluki "Venus dari Hottentot", menjadi terkenal di akhir abad ke-18.
Ia ditipu dengan alasan palsu oleh seorang dokter Inggris agar mau dibawa ke Eropa dan ditampilkan dalam parade "pertunjukan aneh" ( freak show ) di London dan Paris.
Penonton diundang menyaksikan dan menyentuh pantatnya.
Sarah meninggal tahun 1815 dan otak serta tulang belulangnya dipajang di sebuah museum di Paris sampai tahun 1974, sebagai peninggalan penjajahan dan rasisme orang Eropa.
` Tergantung yang melihat `
Strings percaya tubuh gemuk "tidak dipuja atau dikutuk secara universal" dan pemaknaannya "tergantung dari ras yang memilikinya".
Namun bukan hanya ras yang menentukan penilaian terhadap berat tubuh, tapi juga agama dan kelas sosial.
Contohnya, ada pandangan bahwa orang Protestan cenderung menahan diri waktu makan.
Demikian pula anggapan bahwa kelas atas bisa bertubuh langsing karena kemewahan karena meeka tak harus tergantung pada makanan dengan pati tinggi.
Pria Inggris gemuk yang "menggumpal di sepanjang jalan" menghidupkan fantasi turis asing, kata Forth. - Getty Images
Seiring waktu, tubuh gemuk dipandang identik dengan kulit hitam dan sifat liar, sementara tubuh langsing menjadi lebih dikehendaki oleh para perempuan Anglo-Saxon.
Penghinaan terhadap berat tubuh memang terjadi sebelumnya, tetapi kolonialisme mengukuhkan ide tentang estetika fisik dan keunggulan ras.