Berikut, Cara Membeli Pengikut Instagram
- bbc
Unggahan saya di Instagram baru dinaikkan kurang dari sejam, namun sudah diberi jempol lebih dari 1.000 kali.
Saya cukup bangga pada foto itu: semangkuk pasta yang saya santap saat makan siang. Kini foto tersebut menjadi unggahan terpopuler saya sejak bergabung dengan Instagram.
Akan tetapi, kenyataannya hanya tiga dari 1.003 suka yang saya dapatkan, benar-benar berasal dari pengguna Instagram. 1.000 lainnya palsu belaka.
Saya mendapat `like` palsu dari seorang pria bernama Dries Depoorter-seniman asal Belgia yang menciptakan seni berbasis teknologi.
Karya terkininya disebut Quick Fix-sebuah mesin penjual yang mengeluarkan `like` dan pengikut ke akun Instagram dengan tarif beberapa euro.
"Pada dasarnya saya punya ribuan akun palsu dan akun-alun itu bisa menjadi pengikut akun Anda atau menyukai unggahan Anda," ujarnya kepada saya.
"Yang harus kamu ketahui adalah angka-angka yang muncul pada layarmu tidak selalu benar."
Foto santapan siang Edwin yang mendapat lebih dari 1.000 like - BBC
Pemalsu
Dries menciptakan akun-akun dan like palsu sebagai bagian dari seni modern yang dia ciptakan. Dia tidak melakukannya untuk uang. Namun, banyak orang justru bertolak belakang dengan Dries.
Di dunia internet, ada industri yang tumbuh subur demi mendukung popularitas di Instagram.
Pencarian cepat di Google memunculkan puluhan situs yang menawarkan pengikut dan like sebanyak yang Anda sanggup bayar.
Saya menemukan, misalnya, 1.000 pengikut dengan tarif US$10-US$15 (Rp141 ribu - Rp211 ribu).
Dries Depoorter dan mesin Quick Fix ciptaannya. - Dries Depoorter
Itu menjadi masalah bagi industri pemasaran influencer yang meledak di platform media sosial seperti Instagram dalam beberapa tahun terakhir.
Merek-merek terkenal kini berani membayar "instagrammer" berpengaruh untuk mempromosikan produk mereka ke pengikut sang `selebgram` dalam industri yang diperkirakan bernilai miliaran dollar per tahun.
Pertanyaannya adalah apakah perusahaan-perusahaan itu membuang-buang uang jika pengikut selebgram itu tidaklah nyata.
"Kami menemukan 20%-30% influencer menggelembungkan ukuran dengan cara tertentu, apakah itu membeli pengikut palsu, like palsu, komentar, atau jumah penonton story," kata Andrew Hogue, peneliti dan pengembang IG Audit - perangkat online guna memperkirakan jumlah pengikut palsu dalam profil-profil Instagram.