Jerman Diminta Bertindak atas Penahanan Muslim Uighur

picture-alliance/dpa/AP Photo/File
Sumber :
  • dw

Dokumen-dokumen baru yang bocor ke Konsorsium Jurnalis Investigasi Internasional (ICIJ) telah mengungkap sejauh apa China secara sistematis mengawasi dan menahan sebanyak 1 juta populasi Muslim Uighur di barat laut negara itu.

Saat ini para pengamat menyerukan kepada Jerman, dan juga perusahan multinasionalnya yang terhubung dengan perusahaan yang terlibat dalam penahanan itu, untuk segera mengambil tindakan terhadap China, mitra ekonomi Berlin yang paling penting.

Apa saja yang diekspos dokumen itu?

Dokumen-dokumen dari tahun 2017 dan 2018 itu diterbitkan pada 24 November, dan telah mengungkap “mekanisme sistem pengawasan massal Orwellian dan analitik prediktif,” tulis ICIJ.

Sebuah sistem komputer yang dijuluki “Platform Operasi Gabungan Terpadu” dilaporkan memeriksa sejumlah besar data tentang pengawasan populasi Uighur untuk mengetahui individu dengan “perilaku mencurigakan” yang tidak berbahaya seperti keseringan berdoa dan bepergian. Informasi ini digunakan untuk menahan lebih dari 15.000 warga Uighur dalam kurun waktu satu minggu pada Juni 2017 dengan total sebanyak 1 juta orang, menurut dokumen itu.

Cina bersikeras mengatakan bahwa kamp-kamp itu hanyalah “pusat pendidikan ulang” yang digunakan untuk mengurangi kemiskinan dan memerangi radikalisasi di daerah itu. Beijing bersikukuh bahwa “siswa-siswa” ada di sana secara sukarela dan dapat pergi atas kemauan mereka sendiri.

Namun, dokumen yang didapatkan oleh ICIJ itu memberikan gambaran yang berbeda. Petunjuk operasi rahasia justru memberi tahu para penjaga cara mengunci ganda pintu-pintu untuk mencegah adanya pelarian. Orang-orang Uighur juga harus meninggalkan kepercayaan mereka ketika masuk ke dalam kamp-kamp dan diharuskan mengikuti ideologi komunis negara.

Baca juga: AS Batasi Visa Pejabat Cina Karena Pelanggaran HAM Terhadap Etnis Uighur

"Fabrikasi murni"

Pemerintah Cina mengatakan kepada The Guardian yang merupakan mitra dari ICIJ bahwa dokumen-dokumen itu merupakan ‘fabrikasi murni dan berita palsu’. Hal itu juga memperkuat klaim bahwa pusat-pusat itu ada di sana untuk “mencegah terorisme” di wilayah tersebut.

Tetapi kepada DW, Direktur Society for Threatened People, sebuah organisasi HAM Internasional di Jerman mengatakan sebaliknya. Menurutnya, dokumen yang dijuluki “China Cables” itu justru membantu para pengamat untuk lebih memahami sebuah kasus penguasaan sistematis yang telah mereka ikuti selama bertahun-tahun.