Jenderalnya Dibunuh AS, Iran Mau Balas: Seberapa Kuat Militernya?
- bbc
Iran berjanji akan melakukan serangan balasan setelah komandan militer paling berpengaruh, Jenderal Qasem Soleimani, tewas di Baghdad, terhantam rudal yang ditembakkan oleh pesawat tanpa awak milik Angkatan Udara Amerika Serikat.
Pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengatakan "akan ada serangan balasan terhadap penjahat" yang melakukan serangan.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan pembunuhan Soleiman "untuk menghentikan perang, bukan untuk memulainya".
Trump juga mengatakan "kekuasaan teror Soleimani telah berakhir".
Berapa jumlah personel militer Iran?
Iran diperkirakan memiliki 523.000 personel militer aktif, menurut lembaga kajian Inggris, International Institute for Strategic Studies.
Jumlah tersebut mencakup 350.000 tentara reguler dan setidaknya 150.000 anggota Garda Revolusi.
Juga terdapat 20.000 personel Garda Revolusi yang bertugas di Angkatan Laut.
Kelompok ini antara lain melakukan operasi di Selat Hormuz, wilayah perairan yang menjadi lokasi konfrontasi dengan sejumlah kapal tanker berbendera asing pada 2019.
Garda Revolusi memiliki angkatan laut dan angkatan udara tersendiri selain bertanggung jawab atas persenjataan strategis. - Getty Images
Garda Revolusi juga membawahi unit Basij, yang beranggotakan para relawan dan kadang dikerahkan untuk membantu menumpas gerakan perlawanan di dalam negeri.
Unit ini bisa memobilisasi ratusan ribu personel.
Garda Revolusi didirikan 40 tahun lalu dengan fungsi utama mempertahankan sistem Islam di Iran dan kemudian menjadi kekuatan besar di bidang militer, politik dan ekonomi.
Meski anggotanya lebih sedikit dari pasukan reguler, Garda Revolusi dianggap sebagai inti kekuatan militer Iran yang sebenarnya.
Bagaimana dengan operasi militer di luar negeri?
Pasukan elite Quds, yang dipimpin Jenderal Soleimani, melakukan operasi rahasia di luar negeri bagi Garda Revolusi dan melapor langsung ke pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Diyakini Quds punya 5.000 anggota.
Unit ini antara lain dikerahkan ke Suriah dengan tugas utama memberikan masukan ke Presiden Bashar al-Assad dan milisi Syiah di negara tersebut.
Di Irak, Quds membantu kelompok paramiliter Syiah dalam menumpas kelompok yang menamakan diri Negara Islam (ISIS).
Amerika Serikat mengeklaim Quds punya peran lebih luas dengan menyediakan dana, pelatihan, senjata dan peralatan kepada kelompok-kelompok yang oleh Washington dikategorikan sebagai organisasi teroris di Timur Tengah.