Perang Suriah: Mengapa Pertempuran Idlib Begitu Penting?
- bbc
Dalam pertempuran melawan pasukan pemerintah, HTS disokong beragam elemen termasuk milisi Uighur China, kelompok baru yang berafiliasi dengan Al-Qaeda, serta beberapa kelompok Islamis yang bertempur di bawah panji Tentara Nasional Suriah sokongan Turki.
- BBC
Kelompok Negara Islam (ISIS) masih memiliki sekian ratus petempur di Idlib. Namun, faksi-faksi lain menentang kehadiran kelompok tersebut.
Apa yang mendorong pemerintah Suriah untuk menggencarkan serangan?
Idlib telah menjadi wilayah yang masuk dalam kesepakatan "de-eskalasi" antara Turki, Rusia, dan Iran sejak Mei 2017.
Kesepakatan itu meminta penghentian aksi kekerasan di empat wilayah pertahanan oposisi, termasuk Idlib; "pemisahan" kelompok jihadis dan pemberontak arus utama; dan pengantaran bantuan tidak diganggu.
Gempuran udara yang dilakoni pemerintah Suriah dan Rusia menghancurkan area-area pertahanan oposisi. - AFP
Pada Oktober, Turki mengerahkan pasukan ke pos-pos pengamatan di garis depan yang dikuasai oposisi di Idlib untuk mengawasi jalannya kesepakatan. Pasukan Rusia melakoni hal serupa di wilayah yang dikuasai pemerintah.
Akan tetapi, kehadiran mereka tidak membuat pasukan pemerintah Suriah berhenti mengambil alih wilayah timur Idlib selama empat bulan ke depan.
Pasukan pemerintah lantas mengalihkan perhatian ke wilayah pertahanan oposisi di bagian selatan, yang mencakup Provinsi Homs dan bagian timur Ghouta dekat Damaskus.
Semua kawasan itu direbut kembali pada Juli 2018 dengan menghancurkan wilayah permukiman, membunuh ratusan warga sipil, dan membuat ratusan ribu lainnya mengungsi.
Banyak pendukung oposisi yang "dievakuasi" ke Idlib sebagai bagian dari kesepakatan menyerah.
Presiden Rusia dan Turki menggelar Kesepakatan Sochi pada 2018. - AFP
Pasukan pemerintah kemudian bersiap melakoni serangan besar-besaran ke Idlib. Namun, hal ini tidak jadi dilakukan lantaran pada September 2018 terjadi kesepakatan antara Turki dan Rusia.
Kesepakatan Sochi itu menyerukan pembentukan "zona penyangga demiliterisasi" di sepanjang garis depan. Para pemberontak arus utama diharuskan menarik senjata-senjata berat dari zona tersebut. Adapun milisi jihadis diminta mundur.
Akan tetapi, kesepakatan itu tidak pernah diterapkan seutuhnya. Pasukan pemberontak dilaporkan telah menarik sejumlah senjata berat, namun milisi jihadis bertahan.