Kisah Perjalanan Wartawan VIVAnews di Formosa

Perayaan ulang tahun Konfusius di Taiwan
Sumber :
  • REUTERS/ Pichi Chuang

VIVAnews - Pagi itu matahari cerah. Musim semi di negeri Taiwan ini mestinya sudah berganti menjadi lebih hangat. Tapi angin dingin masih menyambar menusuk kulit. Kehangatan itu tak kunjung datang, lantaran cuaca ekstrim global juga mengurung kawasan itu.

Melaju ke ibukota Taiwan, kini saya tak perlu lagi transit di Kuala Lumpur. Tak perlu pula singgah di Hongkong. Pesawat Garuda Indonesia sudah terbang langsung dari Jakarta menuju Taipei.

Kenikmatan berlibur ke Kepulauan Formosa ini bahkan sudah dimulai sejak duduk di kabin pesawat. Ya, karena pesawat Boeing 737-800 yang saya tumpangi penuh dengan fasilitas yang membuat saya nyaman. Di antaranya, fasilitas hiburan musik dan film. Makanya, selama perjalanan sekitar 6 jam nonstop, CD Adele '21' dan film 'The Artist' saya "lahap" habis. 

Di luar dugaan, ibu kota Taiwan ini ini membuat saya terpesona. Arsiteksturnya mengingatkan pada arsiteksur Forbidden City di Beijing. Ya, keduanya adalah saudara yang kini terpisahkan oleh Selat Taiwan. Taipei juga ternyata teramat bersih. Bukan hanya dari sampah, tapi juga dari ludah dan bekas permen karet.  Selain itu, tentu saja, banyak tempat wisata yang membuat saya ingin kembali lagi suatu hari nanti.

National Chiang Kai-shek Memorial Hall

Berada di pusat kota Taipei berupa plaza terbuka. Pagi atau sore hari, plaza ini dipenuhi warga, entah sekadar olah raga tai chi atau menghirup udara segar bersama hewan peliharaan mereka.

Landmark wilayah ini adalah bangunan setara gedung berlantai 4 dengan atap biru. Di puncaknya terdapat patung perunggu mantan Presiden Republik China, Chiang Kai-shek. Untuk menengok si presiden pertama Taiwan, pengunjung harus mendaki 200 anak tangga yang bikin nafas ngos-ngosan. Perjuangan yang tak sia-sia karena dari puncak anak tangga terlihat seluruh plaza dengan National Concert Hall dan National Theatre seolah mengapit singgasana Chiang Kai-shek. 

Sedangkan di lantai dasar bangunan, pengunjung bisa melihat ruang kerja mantan Presiden Republik China pertama, mobil dinasnya, dan juga berbagai tanda penghargaan yang didapat pemimpin besar Republik China. 

  
Taipei 101

Salah satu bangunan tertinggi di dunia sebelum dipatahkan oleh Burj al Khalifa, Dubai. Image gedung tertinggi ini memang seolah mengundang wisatawan untuk melongoknya. Diperuntukkan sebagai mal supermewah di lantai 1 sampai 5. Selebihnya adalah perkantoran. 

Di lantai 88 ditaruh bola besi seberat 8 ton. Gunanya sebagai penyeimbang karena gedung yang body-nya berlekuk-lekuk ini dibangun di wilayah yang rawan gempa seperti Jepang. Puncak tertinggi gedung yang dibuka pada tahun 2004 yang bisa dicapai oleh pengunjung adalah lantai ke-89. Untuk mencapai lantai tersebut, saya harus rela antre selama 50 menit. Itu pun dengan merogoh kocek NTD450 (New Taiwan Dollar) atau sekitar Rp140.000. Lantai-lantai berikutnya, merupakan misteri karena tak pernah ada yang tahu dipergunakan untuk apa. 

Dari lantai 89, pemandangan kota Taipei terbentang sejauh mata memandang. Jika lapar, bisa ngemil di kafe. Namun, harga makanan dan minumannya bikin mata terbelalak.  Bayangkan, sepiring nasi goreng seharga Rp200 ribu.

National Revolutionary Martyrs' Shrine

Petilasan ini terletak di antara Gunung Chingshan dan Sungai Keelung serta merupakan tempat sembahyang untuk mengenang 390 ribu orang yang gugur sejak Revolusi Xinhai sampai ke perang sipil pertama dan kedua sekitar tahun 1950-an. 

Di gerbang monumen yang bentuknya menyerupai pintu gerbang Istana Kota Terlarang, tampak dua prajurit yang tegak berdiri. Berkedip pun mereka tidak pernah. Setiap satu jam sekali, penjaga akan bertukar tempat dengan rekannya dan atraksi mereka menjadi pertunjukan menarik bagi wisatawan. Gerak gerik mereka sangat kaku. Bahkan mereka hanya bergerak sesuai aturan baris-berbaris yang sudah ditentukan.

Seperti yang saya saksikan sore itu. Seorang prajurit yang sedang flu dan mengeluarkan ingus dari hidungnya. Untuk mengelap ingus yang keluar pun ia harus dibantu oleh seniornya. 

Setelah upacara ganti prajurit berakhir, senior akan merapikan baju si yunior dan memasangkan pagar pengaman di sekitar yunior. Setelah itu, selama 1 jam, yunior akan berdiri tak ubahnya patung hidup. Seperti tidak bernafas karena dadanya tidak terlihat naik turun.

National Palace Museum

Museum yang menyimpan 600.000 ribu artefak. Seluruh koleksi adalah barang-barang yang diboyong oleh Chiang Kai-shek saat perang sipil di Cina daratan. Menurut Wikipedia, artefak tersebut diselundupkan dengan kereta api melalui terowongan bawah laut yang (saat itu) menghubungkan Kepulauan Formosa dengan China daratan sekitar tahun 1948. 

Koleksinya berumur 8000 tahun, mulai dari era neolitikum sampai zaman Dinasti Qing. Beragam lukisan, keramik, buku, giok, dan kaligrafi. Koleksinya yang paling dicari adalah Jadeite Cabbage, ukiran giok berbentuk sawi dengan belalang bersembunyi di antara helaian daunnya. Saking banyaknya koleksi, pihak museum akan merotasi barang-barang yang dipamerkan setiap satu bulan sekali. Bahkan jika ingin melihat semua koleksinya, dibutuhkan waktu selama 12 tahun. Wow!