Ini Anggapan Keliru Pengusaha Penyebab Jurang Kemakmuran

Ir. Goenardjoadi Goenawan MM.
Sumber :

VIVA.co.id - Sahabat saya, Lintong Napitupulu menulis, "Saya beruntung pernah bekerja di perusahaan-perusahaan terbaik di bidangnya, yakni PT Salim Indo Plantations, (perusahaan multinasional) seperti Nutricia, dan Monsanto. Tetapi, saya merasa lebih beruntung bisa menjalankan usaha sendiri".

Awalnya, memang sulit. Benar kata orang, "Harus mengubah pola pikir", bukan hanya diri sendiri tapi juga lingkaran dalam. Tak ada supervisor, tak ada patron (pelindung). Sekarang sudah berjalan 13 tahun. Semuanya berubah.

Ketika anak saya mengutarakan ingin bekerja setamat kuliah, saya tak sependapat. Saya suka dia bercita-cita kuliah setinggi-tingginya sampai Doktor.

Akan tetapi, saya tidak khawatir jika dia hanya S1 saja. Saya siap membimbing anak-anak saya terjun ke dunia bisnis. Saya lebih suka mereka jadi pebisnis!

Demikian testimoni Sahabat saya. Menjalankan Usaha sendiri bukanlah hal yang bersifat langka. Sekarang sudah banyak yang melakukannya.

Ada beberapa anggapan keliru dari para pengusaha yang akhirnya membuat jurang kemakmuran semakin tajam.

1. Ada anggapan, pengusaha jangan mengambil bisnis dengan orang menengah bawah. Bila yang kaya semakin kaya, maka yang di bawah ketinggalan.

Yang di atas harus bersentuhan dengan golongan bawah. Supaya menjembatani antarkelompok.

2. Kredit pinjaman lunak memang seharusnya untuk pengusaha. Bila demikian, sampai Belanda datang lagi menjajah tidak akan ada perubahan. Seharusnya, ada perluasan nasabah kredit bank.

Seperti pinjaman pelajar mahasiswa, pinjaman cicilan toko, pinjaman gaji karyawan. Seharusnya diciptakan jenis-jenis baru pinjaman lunak berbasis agunan kelompok.

Buku-buku pelajaran harus dikombinasi dengan aliran baru seperti Muhammad Yunus pemenang hadiah Nobel.

3. Secara otomatis tembok Berlin pembatas jarak golongan atas dengan menengah bawah ini muncul. Dianggap bahwa "penghiburan berkah ada di surga".

Tidak. Tuhan tidak bermaksud demikian. Walaupun golongan menengah bawah sudah ada sejak jaman Romawi bukan berarti konsep kapitalisme sepenuhnya sempurna.

Dari sejarah memang dibutuhkan golongan menengah yang cukup banyak untuk menopang masyarakat. Indonesia membutuhkan semakin banyak sepeda motor Ninja, dan Honda CBR.

Golongan menengah inilah yang menjadi katalisator yang mengangkat golongan di bawahnya. Karena mereka yang paling toleran dan menjadi buffer stabilitas ekonomi sosial masyarakat.


Ir. Goenardjoadi Goenawan MM.
Ex Vice President Director PT Lotteria Indonesia. Konsultan dan Motivator tentang Paradigma baru tentang uang.  Penulis 10 buku Manajemen. Buku terbaru eBook Money intelligent 3 Apakah itu Uang. Untuk memiliki eBook silahkan email goenardjoadi@gmail.com.