24-09-1953, Pidato Menlu Amerika Perkuat Sikap Anti Komunis

Mantan Menlu Amerika
Sumber :
  • biography.com

VIVA.co.id - Perang dingin yang terjadi antara Amerika dan Soviet diperkuat oleh pidato Menteri Luar Negeri AS, John Foster Dulles yang disampaikan pada hari ini, 63 tahun yang lalu.

Saat berpidato di depan massa Federasi Buruh Amerika, 24 September 1953, Dulles menyampaikan pandangannya yang konfrontatif dan sarkastik pada komunis, yang saat itu direpresentasikan oleh Soviet.

Menlu Dulles memulai pidatonya dihadapan massa buruh, dengan mengatakan bahwa ia percaya perdamaian dunia telah berada dalam jangkauan, tetapi terancam oleh "para pemimpin komunis yang secara terbuka menolak kekangan hukum moral."

Amerika Serikat, menurut pernyataan Dulles, tidak percaya bahwa keselamatan bisa dimenangkan hanya dengan membuat konsesi yang meningkatkan kekuatan dan meningkatkan arogansi dari mereka yang telah memperpanjang pemerintahan mereka lebih dari sepertiga dari umat manusia.

Kalimat itu adalah sindiran untuk Soviet yang saat itu tengah meningkatkan persenjataan dan berdiri tegak dengan kekuatan mereka sebagai negara komunis.

Dulles mengaku bahwa Soviet memiliki nuklir, namun ia memastikan, Amerika tidak akan merasa ngeri, atau menjadi panik menghadapi kabar tersebut.

Beralih ke masalah tenaga kerja, Dulles kemudian berbicara panjang lebar tentang apa yang disebutnya penipuan oleh komunis. Ia mengejek pekerja Rusia yang menurutnya ditipu oleh pemerintah mereka sendiri.

"Pekerja Rusia, adalah yang paling rendah upahnya, dan pekerja paling berat dari setiap negara industri modern. Dia adalah pekerja yang paling banyak diperiksa, dimata-matai, dan pekerja yang paling tak terwakili di dunia, saat ini," ujar Dulles.



Pidato Dulles saat itu menguatkan sikap Amerika bahwa mereka tetap menyatakan perang dingin dengan semua hal yang mengandung komunisme. Bahkan, meski saat itu Presiden Amerika, Dwight D. Eisenhower baru saja melakukan negosiasi gencatan senjata dengan Korea.

Pidato itu juga mengisyaratkan dua poin yang akan menjadi andalan Menlu dalam diplomasi Perang Dingin.

Pertama, adalah gagasan bahwa Amerika Serikat tidak akan mundur dari Soviet hanya karena ancaman perang nuklir.

Ide ini akhirnya dikenal sebagai ide yang membahayakan. Kekhawatiran yang kemudian berkembang adalah, jika Soviet terus didorong ke "ambang" perang nuklir, itu sangat mungkin terjadi.

Kedua, pernyataan Dulles adalah pernyataan yang sering diulang bahwa orang-orang yang tinggal di negara-negara komunis pada dasarnya "tawanan" dari rezim komunis yang represif.

Dua poin itu akhirnya memberi pengaruh pada pemikiran Dulles dan Amerika pada tahun-tahun mendatang. (asp)