Asian Agri Akan Bangun 20 Pembangkit Listrik Tenaga Limbah

General Manager Asian Agri Freddy Widjaya.
Sumber :
  • Raden Jihad Akbar / VIVA.co.id
VIVA.co.id - Grup Asian Agri menargetkan pengoperasian 20 Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTB) pada 2020. Pembangkit tersebut menggunakan bahan bakar cairan limbah pabrik kelapa sawit yang dimiliki yang diperolehnya. 

General Manager Asian Agri, Freddy Widjaya mengungkapkan, pembangkit listrik tersebut berkapasitas sebesar 1-2 Mega Watt (MW). Investasi yang dikeluarkan sekitar US$4,7-5 juta per unitnya. 

"Yang sudah jalan lima (PLTB), tahun depan jalan lagi tiga dan tahun 2020 kita targetkan semua pabrik kami ada 20 itu jalan semua pembangkitnya," ungkapnya ketika berbincang dengan para wartawan di Singapura, akhir pekan ini.

PLTB tersebut tersebar di seluruh perkebunan kelapa sawit (PKS) yang dimiliki perusahaan. Saat ini Asian Agri memiliki 100 ribu hektar lahan inti PKS dan 60 ribu pekebunan plasma dan swadaya masyarakat yang bermitra dengan perusahaan. 

Kelebihan listrik

Presiden Joko Widodo mentarketkan penguatan ketahanan energi di Indonesia pada masa pemerintahannya, Program 35 ribu MW pun diluncurkan. Dia menegaskan, Asian Agri siap mendukung perwujudan hal target tersebut. 

Dia mengatakan, listrik yang dihasilkan dari ke 20 PLTB tersebut siap untuk disalurkan ke masyarakat. Khususnya yang berada di sekitar PKS yang dikelola perusahaan yang mayoritas berada di Sumatera. 

"Kami pakai untuk PKS paling 20-25 persen," tambahnya. 

Namun, dia berharap adanya sinergi dari pemerintah dan otoritas terkait untuk mewujudkan hal tersebut. Salah satunya dengan mempermudah birokrasi dan membangun jaringan listrik untuk masyarakat di daerah-daerah tersebut. 

"Karena kan kami sudah investasi, bahkan belum diminta kami sudah melangkah dan sudah siap. Kalau kita sudah lakukan (Bangun pembangkit listrik) tidak ada yang terima dan lebih memilih untuk ngebangun, sayang ya mubazir," ungkapnya.  

Perusahaan pun menurut, siap mengikuti ketentuan dari otoritas terkait dalam hal ini Perusahaan Listrik Negara (PLN), mengenai tarif yang akan dibebankan ke masyarakat.  

"Harga kan kami cuma nerima, mereka (PLN) yang atur, kalau berdasarkan biomassa berapa, kalau berdasarkan sustainable berapa, oke kami ikut harga itu, tapi tolong dibantu," ujarnya. 

Untuk mewujudkan hal tersebut, anak usaha Royal Golden Eagle (RGE) ini menurutnya, terus melakukan pendekatan kepada pihak-pihak terkait. Sehingga ancaman krisis listrik di Indonesia dapat diantisipasi sejak dini. 

Selain Asian Agri menurutnya, pemerintah sangat mungkin mensinergikan pengusaha-pengusaha kelapa sawit di Indonesia yang memiliki pembangkit listrik serupa. Agar pencapaian target ketahanan energi khususnya bidang elektrifikasi dapat dipercepat. 

"Kalau ada 1.000 pabrik keplapa sawit di Indonesia pakai ini, paling sedikit kan ada 1.500-2.000 MW itu kan lima persen dari 35 ribu MW. Pemerintah tidak perlu capai-capai bangun pembangkit," kata Freddy.