Dubes Rusia: AS Sudah Gagal Berantas ISIS

Dubes Rusia untuk Indonesia, Mikhail Y. Galuzin.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Santi Dewi

Pertama, kelompok tersebut bukan saja kelompok militan, tetapi ISIS adalah kelompok teroris. Mereka merupakan kelompok teroris internasional paling berbahaya dan mengancam keamanan masyarakat internasional. Apa yang mereka lakukan bertentangan dengan norma-norma internasional, apalagi nilai-nilai agama.

Perbuatan brutal mereka benar-benar tidak masuk akal sehat. Jadi, mereka adalah kelompok teroris. Ini adalah alasan mengapa kami akhirnya ikut terlibat dalam serangan udara terhadap ISIS. Kami melakukan hal itu, sesuai dengan permintaan dari pemerintahan yang sah dan berkuasa di Suriah.

Situasi di sana sudah tidak bisa lagi ditoleransi, karena ada berbagai alasan untuk penilaian ini. Pertama, banyak warga Rusia yang justru memilih untuk bergabung dengan kelompok militan itu. Hal tersebut sangat kami sayangkan.

Apakah Anda memiliki data mengenai warga Rusia yang bergabung dengan ISIS?

Ada ribuan jumlahnya. Kami tidak ingin warga Rusia itu kembali lagi ke Tanah Air kami, lalu membuat teror di sana. Seperti yang kita ketahui kelompok yang menamakan diri ISIS, walau bukan negara sama sekali, mereka mencoba untuk memperluas pengaruhnya ke Afghanistan dan Pakistan.

Sementara, Afghanistan memiliki perbatasan yang dekat dengan area regional Asia Tengah. Sebagian dari mereka adalah sekutu Rusia, khususnya dalam hal organisasi pertahanan, sehingga kami berpikir mereka bisa saja menyasar teritori dan perbatasan Rusia. Maka, sebelum terlambat, kami ingin membatasi penyelundupan pengaruh ISIS ke negara kami, melalui Afghanistan.

Kedua, keberadaan ISIS di Suriah lama kelamaan mulai membahayakan pemerintahan resmi di sana. Faktanya, kelompok teroris itu sudah menguasai area yang begitu luas di Suriah dan Irak. Maka, ketika Pemerintah Suriah meminta bantuan, kami meresponnya dengan baik. Kami mengerahkan personil Angkatan Udara Rusia untuk menggempur mereka di bawah tanah.

Kami juga mengetahui ada ancaman serupa ke Pemerintah Irak. Namun, kami memilih untuk tidak melibatkan diri di negara yang tidak meminta bantuan pemerintah kami. Oleh sebab itu kami tidak memiliki operasi militer di Irak. Tetapi di saat yang bersamaan kami memiliki pusat koordinasi di Irak. Pusat koordinasi itu juga mencakup pusat intelijen.