Kisah Sukses Lulusan Desain Grafis jadi Pengusaha Rendang

Rendang paru.
Sumber :
  • VIVA.co.id/ Dody Handoko

VIVA.co.id - Berawal dari keputusannya keluar dari pekerjaan untuk dapat lebih sering bersama keluarga,  membawa Reno Andam Suri terjun ke bisnis makanan. Kebiasaan silaturahmi lewat makanan yang dilakukannya ternyata membawa berkah sendiri. Rendang kirimannya disukai oleh keluarga dan teman-teman, maka pesanan rendang pun mulai berdatangan.
 
Akhirnya Andam juga menawarkan rendang dalam kemasan parsel yang cantik. Dikemas dalam toples cantik, piring, mangkok, atau pun papper bag yang menawan. Latar belakangnya sebagai lulusan Desain Grafis, Universitas Trisakti Jakarta membantunya melakukan inovasi dalam hal kemasan.


 Reno Andam Suri / foto:Dody Handoko

Walaupun divakum, rendang buatan Andam tetap bebas lemak, rasanya terjaga, meski tanpa bahan pengawet. Kelebihannya lagi, rendang ini pun praktis untuk dibawa, misalnya sebagai bekal makanan untuk pergi haji. Tak heran, Andam yang pernah menguji ketahanan rendangnya di Tanah Suci ini yakin dapat menarik minat para calon haji untuk membawa rendang buatannya sebagai bekal.
 
Sedangkan untuk mempertahankan keunikan rasa, rendang buatannya dimasak menggunakan kayu bakar. Ini memang ciri khas rendang kampung. Dibandingkan dengan rendang kering yang banyak ditemui, rendang bikinan Andam adalah rendang basah yang dibuat dengan cara tradisional tapi dikemas dengan kemasan modern.
 
Andam memasak rendang di garasi rumahnya dengan tungku api menggunakan kayu sebagai bahan bakar. Dengan memberdayakan tiga orang tetangganya untuk mengaduk adonan rendang, Andam pun dapat tetap memantau aktivitas kedua putrinya di rumah sambil tetap menjalankan bisnis.


 Rendang Udang/ Foto: Dody Handoko


Dalam seminggu Andam dapat memasak bisa sampai tiga kali. Untuk sekali masak saja bisa sampai 20 kilogram. Bahkan jika memasuki hari besar  bisa mencapai 600 kilogram. Rendang yang ditawarkannya pun beragam mulai dari rendang kentang, udang, daging, paru, ikan, ayam hingga daging suir.
 
Yakin dengan keistimewaan produknya, Andam berani mematok harga di atas rata-rata. Satu kemasan rendang ia hargai mulai dari Rp. 20.000,- untuk kemasan kecil sampai yang termahal itu rendang udang Rp. 270.000,-.
 
Untuk lebih menyakinkan pelanggan mengenai kehalalan dan higienitas rendang buatannya, Andam pun membawa Rendang Uni Farah diuji di Departemen Kesehatan dan BPPOM MUI untuk mendapatkan sertifikasi halal.


 Rendang nangka/ Foto: Dody Handoko


Dengan kemasan modern dan cita rasa istimewa tersebut, Rendang Uni Farah - nama yang diambil dari nama putri pertama Andam - banyak dilirik investor maupun hipermarket untuk ikut meluaskan distribusinya.
 
“Saya sempat menjalin kerjasama dengan beberapa pihak, tapi ketika dievaluasi, demi mempertahankan rasa rendang, kita tidak bisa mengikuti kuota,” ungkapnya.
 
Meski ingin mempertahankan ciri khas rendangnya serta dibuat secara home made, Andam tetap berencana memasarkan Rendang Uni Farah lebih luas dengan banyak melakukan pengembangan usaha. 
 
Pemasaran Rendang Uni Farah kini mencakup wilayah Jabodetabek. Ada juga pesanan dari Yogyakarta, Surabaya, Bandung, Jayapura dan Malaysia. Andam mengaku juga kerap mendapat pesanan dari konsumen yang ingin membawa produknya ini ke luar negeri, seperti Singapura, China, Prancis, Belanda hingga Kanada.

Rendang Uluth Itam/ Foto: Dody Handoko