Teknik 'Editing Gen' Bantu Atasi Gangguan Otot Mematikan

Peneliti melakukan sampel analisa logam yang terdapat dalam kandungan air di area penampungan sementara laboratorium air Palyja, Jakarta, Kamis (16/5/2013).
Sumber :
  • VIVAnews/Muhamad Solihin

VIVA.co.id - Peneliti dari Duke University, Inggris, telah menemukan solusi bagi penderita Distrofi Otot Duchenne (DMD). Diketahui DMD adalah penyakit yang menyebabkan kemerosotan otot hingga kematian yang menyerang satu dari 3.500 kaum pria.
 
Seperti dilansir International Business Times, Selasa 5 Januari 2016, para ilmuwan dari Inggris, menemukan cara untuk mengobati penyakit yang berujung pada kematian dini tersebut. Caranya, yaitu dengan teknik editing gen, atau mereka beri nama Clustered Regularly-Interspaced Short Palindromic repeats (CRISPR).
 
Profesor teknik biomedis Duke University, Charles Gersbach mengatakan, DMD disebabkan karena adanya masalah pada kemampuan tubuh untuk menghasilkan distrofin, rantai protein panjang, yang menghubungkan interior serat otot, untuk struktur dukungan di sekitarnya.
 
Sementara itu, distrofin terdiri dari gen yang disebut dengan ekson. Diketahui, ekson dapat dilemahkan oleh mutasi, sehingga menghentikan aktivitas distrofin.
 
Sehingga, tanpa dukungan distrofin, muncullah kelemahan pada otot yang menyebabkan kelumpuhan pada pria. Disebutkan, kaum pria mulai terjangkit pada usia 10 tahun dan hampir tidak bertahan hingga usia 20 sampai 30 tahun.
 
Hingga ilmuwan menemukan teknik CRISPR, Gersbach menyebut, teknik tersebut diujicobakan pada tikus dewasa yang menderita DMD. Teknik CRISPR dibantu ditransfer oleh virus AAV, virus yang paling umum digunakan sebagai ‘kendaraan’ membawa gen.
 
Penelitian pun membuktikan disfungsi ekson dicegah dengan teknik CRISPR. Tikus gagal mengalami distrofi otot, terutama pelemahan otot di jantung. Diketahui, gagal jantung adalah faktor utama kematian pada penderita DMD.
 
Gersbach menambahkan, setelah teknik CRISPR berhasil dilakukan pada mamalia, maka penelitian lebih lanjut akan diteruskan bagi manusia, yang seharusnya penyakit tersebut sudah bisa dicegah dengan teknik CRISPR, terutama saat bayi baru dilahirkan.
 
“Diskusi terbaru, tentang menggunakan CRISPR untuk memperbaiki mutasi genetik pada manusia telah mendekati untuk implikasi semacam itu,” ujar Gersbach. (asp)