Anggota DPR Ini Apresiasi Serapan APBN-P 2015

Anggota Komisi IX DPR Misbakhun
Sumber :

VIVA.co.id - Di tengah persoalan dan tantangan kondisi perekonomian global maupun domestik yang masih penuh dengan ketidakpastian, realisasi anggaran pendapatan dan belanja negara perubahan (APBN-P) 2015 dan beberapa indikator ekonomi makro patut untuk diapresiasi.

Anggota Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Mukhammad Misbakhun mengatakan, ada beberapa capaian yang patut untuk diacungi jempol. Pertama, adalah serapan belanja negara yang mampu bertengger di angka 91,2 persen, meskipun sempat tersendat di awal tahun lalu karena adanya perubahan nomenklatur kementerian/lembaga.

"Apalagi, volume belanja lebih tinggi. Infrastruktur yang menjadi pending matters sejak zaman reformasi mulai diselesaikan oleh pemerintah saat ini," ujar Misbakhun di Jakarta, Kamis malam, 7 Januari 2016.

Selain serapan belanja, realisasi penerimaan pajak pun tak luput dari perhatian. Di tengah kondisi ekonomi yang terkontraksi, dan target penerimaan yang cukup tinggi, penerimaan di sektor pajak sampai saat ini sudah tembus di atas angka Rp1.000 triliun.

"Target pajak yang tinggi, karena ada masukan dari tim transisi yang menyebut ada potensi penerimaan pajak yang belum digali. Target tambahan penerimaan pajak 2015 itu sebesar Rp300 triliun atau naik 39 persen. Jauh di atas pertumbuhan normal," kata Misbakhun.

Sementara untuk pertumbuhan, dia mengatakan, capaian di tahun ini memang terbilang lebih rendah apabila dibandingkan dengan pertumbuhan di tahun 2014. Namun, untuk capaian inflasi, justru terbilang sangat baik apabila dibandingkan dengan tahun 2014.

"Pertumbuhan ekonomi 2015 mampu tumbuh antara 4,7-4,8 persen, dengan inflasi sebesar 3,35 persen. Bandingkan dengan 2014, pertumbuhan lima persen, inflasi justru 8,8 persen. Artinya pertumbuhan ekonomi minus dan tergerus oleh inflasi."

Hal senada diungkapkan anggota Komisi XI DPR, Hendrawan Supratikno. Ia mengatakan, dari beberapa indikator asumsi makro di APBN-P 2015, capaian tingkat bunga surat perbendaharaan negara (SPN) tiga bulan dan harga minyak juga menunjukan arah perbaikan.

"Sebenarnya, pencapaian APBN-P 2015 tidak buruk-buruk sekali. Tiongkok saja sudah turun pertumbuhan ekonominya, dari biasanya dua digit. Jadi, nanti kami akan diskusi untuk mengevaluasi realisasi APBN-P tahun lalu dengan pemerintah."

(mus)