Seni Humor Perlu Dikaji Secara Akademisi

Seno Gumira Ajidarma, Jaya Suprana, dan Arswendo dalam acara diskusi Humor di Jakarta, 11 Maret 2016.
Sumber :
  • Institut Humor Indonesia Kini (IHIK)

VIVA.co.id - Pelawak senior berpendapat bahwa seperti seni teater, seni humor perlu dikaji secara akademisi lantaran humor tidak hanya soal membuat orang tertawa. Namun, juga mengkritisi dengan cara cerdas dan jenaka.

Seorang dosen, Yasser mengaku dia merasakan kegunaan pendekatan humor dalam mengajar. Bahkan, dia mempertanyakan kemungkinan humor bisa menjadi mata kuliah.

"Mungkinkah humor dapat menjadi mata kuliah dasar?” tanyanya dalam Diskusi Budaya bertajuk Humor Masa Kini yang digelar Institut Humor Indonesia Kini (IHIK), dalam rilisnya, Sabtu, 12 Maret 2016.

Menanggapi itu, penulis dan wartawan Arswendo Atmowiloto mengatakan, mengingat bahwa seni teater yang dikemas dengan performing art sudah masuk ke sejumlah perguruan tinggi, maka pegiat seni humor dapat mulai bergerilya dengan cara serupa.

Budayawan Jaya Suprana mendukung dan menyambut kemungkinan adanya simposium humor nasional yang mengundang kalangan akademisi berbagai bidang, seperti psikologi, filsafat, dan antropologi, serta kaum profesional dan agamawan.

Sementara itu, pelawak senior Dedy Gumelar alias Miing menambahkan, jika simposium humor nasional digelar dan seni humor dikaji secara akademis dapat dihasilkan rekomendasi yang berguna untuk Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.