Cara Petani Cabai Jaga Harga Tak Jatuh

Ilustrasi/Seorang petani memetik cabai.
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Rudi Mulya

VIVA.co.id - Petani cabai membutuhkan informasi perkiraan harga cabai dan kondisi cuaca yang akurat untuk menjaga, agar harga jangan sampai jatuh saat panen raya. Terutama, di sentra-sentra produksi cabai di Indonesia.

"Dengan informasi tersebut, petani setidaknya bisa mengatur panen, atau dapat juga dengan diselingi dengan tanaman lain, agar tidak serentak," kata Managing Director PT East West Seed Indonesia (Ewindo) Glenn Pardede, seperti dikutip dalam keterangan tertulis, Sabtu 12 Maret 2016.

Menurut Glenn, petani bisa menyelingi dengan tanaman sayur di luar cabai, seperti timun, tomat, dan lain sebagainya, sehingga tetap mendapatkan penghasilan. Namun, di sisi lain harga cabai tetap terkendali.

Dia mengatakan, produksi cabai nasional belum merata sepanjang tahun. Ada bulan bulan-bulan tertentu produksi cabai berada di bawah kebutuhan per bulan, misalnya bulan Juli, ketika tanaman cabai kekurangan air.

Gleen juga mengakui, fakta impor cabai nasional masih tinggi. Per September 2015, Indonesia melakukan impor cabai sebanyak 23,2 juta kilogram dengan nilai total US$27,4 juta.

Impor ini banyak dilakukan oleh sektor industri, terutama industri makanan olahan, karena cabai impor lebih murah dari cabai lokal.

Kadin Indonesia bersama dengan pemerintah, petani, dan perusahaan benih nasional saat ini tengah menyusun roadmap (peta jalan) dengan tujuan mengendalikan harga cabai, agar jangan sampai merugikan petani.

"Focus Group Discussion untuk menyusun roadmap telah dilaksanakan pada Kamis 10 Maret lalu, untuk mendengar sejumlah persoalan, agar nantinya dapat dibuat rekomendasi untuk diajukan sebagai suatu kebijakan," kata Glenn.

Bunbun Bunyamin, petani asal Garut Jawa Barat, yang juga ikut dalam forum tersebut mengatakan, harga cabai sangat ditentukan kondisi cuaca dan penyakit seperti saat kemarau panjang produksi mengalami penurunan.

Hal serupa juga diakui petani cabai asal Garut lainnya, Adek Sobirin yang mengatakan, harga cabai di tingkat pengepul hingga konsumen akhir berbeda jauh. Bagi petani cabai, harga harus di atas Rp12.500 per kilogram, kalau di bawah itu petani akan mengalami kerugian.

Menurut para petani, biaya produksi sebagian besar sekitar 70 persen ditujukan untuk pengadaan pupuk dan pestisida, sedangkan 20 persen untuk tenaga kerja dan lahan, sedangkan pengadaan benih hanya lima persen. "Meskipun porsinya paling kecil, tetapi kualitas benih akan sangat menentukan hasil panen," kata Adek.



Glenn mengatakan, cabai merupakan komoditas pangan dengan rantai perdagangan terpanjang di atas komoditas pangan beras. Untuk sampai di tangan konsumen, cabai merah harus melewati lima tingkatan mulai dari pedagang pengepul, distributor, agen, pedagang grosir, pengecer, dan terakhir ke tangan konsumen.

Kendala bagi petani cabai, yakni terbatasnya benih cabai unggul berkualitas. Sementara itu, di sisi lain, persoalan serangan hama dan penyakit semakin berat. Contoh, virus Gemini dan penyakit layu bakteri yang dapat menyebabkan 100 persen gagal panen.

Glenn mengatakan, penggunaan benih hibrida berkualitas terbukti mampu meningkatkan produktivitas petani cabai. Sebagai contoh, produktivitas petani binaan PT Ewindo yang menggunakan benih unggul berkualitas dapat meningkat produksinya 100-120 persen dibanding ketika menggunakan benih lain.

Untuk benih hibrida cabai, Ewindo telah menghasilkan 17 varietas benih cabai hibrida sejak tahun 1991 sampai dengan 2015, dari mulai cabai varietas Jatilaba hingga yang terbaru varietas LABA F1 dan masih diminati petani sampai saat ini.

Masing-masing varietas tersebut memiliki keunggulan, di antaranya seperti buah yang seragam, tahan bakteri layu dan virus Gemini, tahan terhadap musim kemarau, dan dapat ditanam di dataran rendah.

"Selain memproduksi benih, Ewindo juga berperan serta dalam membina petani di beberapa wilayah di Indonesia. Saat ini, jumlah petani yang dibina secara intensif oleh petugas lapangan Ewindo berjumlah 1,5 juta petani," ujar Glenn.

Setiap tahunnya, petani binaan bertambah sebanyak 10 ribu petani. Seperti di wilayah Sumatera, penambahan petani binaan sebayak 3.000 petani, di pulau Jawa 5.000 petani, Kalimantan 1.000 petani, sedangkan di pulau Sulawesi dan Papua 1.000 petani.

Glenn menambahkan, untuk membantu petani cabai, perlu adanya pemanfaatan sistem teknologi informasi yang memungkinkan petani untuk mengakses informasi mengenai prediksi harga, kondisi tanah, dan perkiraan cuaca secara akurat dan mudah.

"Harapannya melalui aplikasi tersebut petani dapat mengatur masa tanam dan panen cabainya, agar tidak mengalami kerugian," jelasnya.