Ini Kenapa Harga BBM Bisa Berbeda-beda di Indonesia

Ilustrasi/Truk tangki pengirim bahan bakar minyak PT Pertamina.
Sumber :
  • Foto: Rusli Djafar/VIVAnews

VIVA.co.id - Mata rantai distribusi bahan bakar minyak di Indonesia sangat kompleks, baik melalui laut maupun darat. Sementara itu, Undang-undang Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi mengamanatkan BBM harus tersedia di seluruh pelosok Nusantara. 

Ketua Alumni Akademi Minyak dan Gas, Ibrahim Hasyim mengatakan, mata rantai distribusi BBM saat ini sangat panjang dan bertingkat. Transportasi laut misalnya, tentu sangat rumit membawa ke pulau-pulau kecil dengan alur pelayaran yang dangkal. 
 
Begitu juga di darat yang lokasinya sangat tersebar dengan infrastruktur jalan dan jembatan yang sangat terbatas untuk mencapainya.
 
"Kondisi itu semua menuntut saluran distribusi yang bertingkat, terminal dan kapal yang besar sampai kecil. Kondisi ini hanya terjadi di sebuah negara kepulauan," kata Ibrahim dalam keterangannya di Jakarta, Selasa 22 Maret 2016.
 
Dia menjelaskan, yang membedakan komponen harga BBM di Indonesia dengan negara lain  karena ada pertimbangan ekonomi, sosial politik, dan lingkungan hidup. 
 
"Di Amerika Serikat saja, harga BBM antar negara bagian saja bisa berbeda. Akan tetapi penentu utama tentulah harga minyak mentah," kata dia.  
 
Harga BBM berkorelasi dengan biaya produksi dan transportasi. Jika penurunan harga BBM tidak signifikan tentu dampak terhadap biaya produksi dan transportasi pun menjadi kecil, kecuali jika peran biaya BBM dalam struktur biaya totalnya tinggi. 
 
Peran pemerintah untuk mengaudit biaya distribusi itu perlu, agar dapat diketahui berapa besarnya pengaruh penurunan harga BBM terhadap terhadap total biaya. 
 
"Kalau formula itu ada, pemerintah akan ada pegangan untuk mengawasinya," tegas Ibrahim. 
 
Vice President Corporate Communication PT Pertamina, Wianda Pusponegoro mengakui hal tersebut, jaringan distribusi BBM di Indonesia termasuk paling rumit di dunia. 
 
Menurutnya, Pertamina telah berupaya mendistribusikan energi ke pelosok negeri, tak terkecuali ujung timur Nusantara. Hal ini dilakukan melalui peningkatan efisiensi dan efektivitas sarana sekaligus fasilitas, mulai dari darat, laut hingga udara. 
 
"Nilai penghematan distribusi BBM dari peningkatan tata kelola arus minyak per Desember mencapai  US$255,25 juta,” katanya.
 
Wianda mengatakan, dalam distribusi BBM di Tanah Air, Pertamina memperkuat infrastruktur hilir dengan 273 unit kapal tanker, delapan unit kilang, dan 111 unit terminal BBM.