Ini Alasan Harga Daging Tak Bisa di Bawah Rp80 Ribu/Kg

Ilustrasi sapi.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Muhamad Solihin

VIVA.co.id – Presiden Joko Widodo telah menginstruksikan kepada sejumlah menteri terkait untuk berupaya menurunkan harga daging sapi menjelang Lebaran. Jokowi mengharapkan, harga sapi dapat turun hingga di bawah Rp80 ribu per kilogram sebelum Lebaran tiba.

Menanggapi itu, Ketua Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) Asnawi mengatakan bahwa bisa saja hal itu dilakukan, kalau daging yang diimpor bukan dari Australia, misalnya seperti dari India. Namun, untuk daging dari Australia, diyakininya pedagang masih sulit untuk merealisasikan hal tersebut.

"Kalau harga beli saja misalnya, daging dari Australia itu sekitar Rp75-85 ribu untuk impor daging frozen (beku), nah sekarang supermarket juga pasti kena pajak. Jadi, kalau di bawah Rp80 ribu logikanya tidak mungkin, itu baru yang frozen loh ya," kata Asnawi saat dihubungi VIVA.co.id, Jakarta, Selasa 24 Mei 2016.

Ia menjelaskan, daging yang diimpor tersebut ada dua macam. Pertama, ada daging beku yang sudah dipotong dan ada sapi potong yang nantinya dipotong di dalam negeri yang disebutkan fresh (daging segar).

"Frozen itu orientasinya bukan di pasar tradisional, tetapi supermarket. Kalau daging fresh, adanya di pasar tradisional," kata dia.

Ia mengatakan, jika pemerintah ingin menekan harga daging, harus melakukan impor dari negara lain, seperti India.

"Kalau sumber dari India, harga beli di India, ada yang Rp45 ribu per kg, ada yang Rp50 ribu per kg. Kalau pemerintah instruksikan yang di bawah Rp80 ribu, mungkin bisa beli dari India," kata dia.

Pada praktiknya untuk daerah DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten, impor daging sapi justru dipasok dari Australia. Meski demikian, ia mengakui, harga daging sapi masih berbeda-beda di tiap wilayah, dia memprediksi kenaikan harga daging sapi bisa mencapai kisaran Rp120 ribu per kg menjelang Ramadan.

"Kalau untuk yang diimpor dari India, sangat mungkin Rp80 ribu kg. Nah, kalau itu yang menjadi penekanan dari Presiden sangat mungkin," kata dia. (asp)