Begini Cara NASA Kendalikan Asteroid

Ilustrasi asteroid jadi pesawat antariksa
Sumber :
  • www.mirror.co.uk

VIVA.co.id – Ide mengenai penambangan asteroid terus bergulir. Yang terbaru, Badan Antariksa Amerika (NASA) membuat sebuah kompetisi untuk mencari mereka yang bisa membuat robot agar mudah mengendalikan asteroid.

NASA membuat sayembara berhadiah US$100.000 bagi siapa saja yang bisa mengembangkan teknologi pengendali asteroid. Batu luar angkasa itu diharapkan bisa diarahkan ke bumi agar ilmuwan dapat dengan mudah mengakses dan menambang asteroid, mengambil sumber daya yang ada di dalamnya, baik air, oksigen maupun material lain.

Hadiah itu kini telah menemukan pemiliknya. Sebuah perusahaan bernama Made in Space yang berbasis di California. Perusahaan tersebut berfokus pada pengembangan teknologi untuk kondisi luar angkasa.

Uang senilai US$100 ribu itu akan memaksa perusahaan untuk bisa mengimplementasikan teknologi yang ditawarkannya ke NASA, dalam kurun sembilan bulan ke depan. Mereka menawarkan untuk bisa mengendalikan asteroid menggunakan robot.

"Tujuan utama adalah membuat asteroid bisa diakses dengan mudah agar bisa ditambang. Membuat asteroid itu berada dekat dengan planet bumi. Caranya adalah dengan mengendalikan dan mengarahkannya. Kami punya teknologinya," ujar Jason Dunn, co-founder Made in Space (MiS), seperti dikutip dari Daily Mail, Sabtu, 11 Juni 2016.

MiS mengaku telah memiliki perangkat bernama RAMA, kepanjangan dari Reconstituing Asteroid into Mechanical Automate. Itu adalah perangkat yang akan meluncur menerbangkan robot luar angkasa ke alam semesta dan diproyeksikan mendarat di objek asteroid yang terdekat dengan bumi.

Robot itu dinamai Seed Crafts, yang akan melekatkan diri ke asteroid, menggunakan perangkat yang ada untuk membangun sistem penggerak dan navigasi. Sistem itulah nantinya yang akan mengarahkan asteroid menuju bumi.

"Selain bisa mengendalikan asteroid, sistem ini diharapkan juga bisa menjadi alat pertahanan bumi agar bisa menghindar dari serangan asteroid," kata dia.

Dunn memastikan, meski proyek ini mungkin dilakukan namun pengembangan dan implementasinya akan membutuhkan waktu kurang lebih dua dekade.