Telkomsel: Dominan di Luar Jawa Bukan Kemauan Kami

Dirut Telkomsel, Ririek Adriansyah.
Sumber :
  • Viva.co.id/Agus Tri Haryanto

VIVA.co.id – Direktur Utama Telkomsel Ririek Adriansyah buka suara mengenai pemberitaan yang berisi tudingan perusahaannya memonopoli pasar di luar Pulau Jawa. Selama persoalan itu muncul ke permukaan, Ririek sebagai bos tak aktif berbicara untuk menanggapi perseteruan dengan operator tetangga.

Ririek mempertanyakan tuduhan monopoli yang dialamatkan ke perusahaannya. Sebab, pangsa pasar yang dikuasai Telkomsel di seluruh Indonesia tidak mencapai 50 persen. Seperti diketahui, tuduhan di luar Pulau Jawa ini dilayangkan oleh Indosat Ooredoo.

"(Sebutan) monopoli itu patut dipertanyakan, karena lisensi yang kami terima itu secara nasional. Bukan (lisensi) di Pulau Jawa atau untuk di luar Pulau Jawa. Secara market share juga, Telkomsel tidak sampai lebih dari 50 persen, mungkin mendekati (50 persen)," ujar Ririek dalam acara Buka Bersama dengan media di Telkomsel Smart Office, Jakarta, kemarin malam.

Ririek mengungkapkan, lisensi yang diterima Telkomsel tidak berdasarkan regional, misalnya untuk area Sumatera atau Kalimantan, melainkan secara nasional. Lagi pula, kata dia, kalau dilihat per area, Telkomsel tidak terlalu di luar pasar Pulau Jawa.

"Di luar Pulau Jawa tidak dominan semua, ada yang dominan. Kalau dominan juga, karena tidak ada operator (bangun infrastruktur) di situ. Jadi, dominasi Telkomsel di luar Pulau Jawa ini bukan kemauan Telkomsel. Kami bersyukur itu merupakan kerja keras membangun di mana pun," katanya.

Ririek mengatakan, saat ini, layanan Telkomsel sudah menjangkau 95 persen populasi penduduk Indonesia. “Kalau secara geografis, kami kurang dari itu. Tetapi, daerah yang tidak ada (kurang) penduduknya, kami bangun," ujar dia.

Foto Kontroversial

Ririek pun mengomentari soal beredarnya foto yang berisikan Telkomsel memborong starterpack (kartu perdana) Indosat Ooredoo. Dikatakan dia, hal itu bukan bagian dari instruksinya seperti yang telah dituduhkan.

"Kami sedang dalami itu, tapi kami pastikan tidak ada instruksi atau kebijakan perusahaan untuk melakukan itu. Kami selalu melakukan sesuai dengan peraturan, perundang-undangan, dan etika," ucapnya.