Pengamat: BI Perlu Perkuat Cadangan Emas

Seorang petugas menunjukkan emas batangan.
Sumber :
  • VIVAnews/Muhamad Solihin

VIVA.co.id – Pertengahan tahun 2016, menjadi momen yang kurang menguntungkan bagi dunia. Keluarnya Inggris dari Uni Eropa (UE) yang dikenal dengan Brexit, telah menekan nilai pound ke titik terendah selama 31 tahun terakhir. Kondisi ini juga berdampak ke negara lain.

Ekonom Universitas Sam Ratulangi Manado, Agus Tony Poputra mengatakan, sesungguhnya pound merupakan salah satu mata uang kuat (hard currency) di dunia dan menjadi pilihan cadangan devisa pada kebanyakan bank sentral di dunia. Namun, pound tetap tidak kebal terhadap perubahan lingkungan. Kondisi yang sama dapat dialami mata uang kuat lainnya.

“Rentannya nilai mata uang suatu negara terhadap fluktuasi tajam terjadi karena negara-negara di dunia saat ini telah menggunakan Rezim Fiat Money. Pada rezim ini, uang yang beredar di suatu negara tidak dikaitkan lagi dengan emas maupun perak di bank sentral. Konsekuensinya, nilai mata uang tergantung semata-mata pada kepercayaan pemakainya terhadap mata uang tersebut dan negara pemiliknya,” ujar Agus pada VIVA.co.id di Manado, Minggu 10 Juli 2016.

Ia mengatakan, kepercayaan terhadap suatu negara, umumnya tergantung pada kondisi ekonomi, politik, kebijakan pemerintah, dan keamanan. Jatuhnya nilai pound, kata Agus, lebih disebabkan oleh faktor politik dan kebijakan pemerintah yang dikaitkan dengan masa depan ekonomi Inggris Raya.

“Namun, apa yang dialami pound bisa saja berjangkit kepada US dolar yang menjadi pemimpin mata uang dunia. Sebagai negara adidaya, banyak pihak besar memperkirakan AS tidak mungkin runtuh.
Namun, sejarah memperlihatkan banyak negara besar di masa lalu tekah mengalaminya,” katanya.

Saat ini, AS sedang mendapat tekanan dalam negeri, di mana isu rasial mengalami eskalasi yang tajam dan bisa berujung pada terganggu keamanan dan ekonomi negara tersebut secara masif. “Faktor lainnya yang diperkirakan  membawa pengaruh negatif bagi kondisi domestik AS ke depan adalah pemilihan presiden,” ujarnya.

Dia menambahkan, perkiraan situasi buruk yang bakal dihadapi AS, maka dolar AS berpotensi mengalami fluktuasi tajam di masa mendatang. Sebab itu, Bank Indonesia perlu menata kembali portofolio cadangan devisa dengan memperbanyak emas moneter. Memang nilai emas juga mengalami fluktuasi, namun tetap memiliki nilai yang memadai.

Peningkatan jumlah emas moneter oleh BI dapat dipakai sebagai pengamanan nilai cadangan devisa Indonesia dari pengaruh eksternal. Data yang dilansir World Gold Council per Juni 2015, menunjukkan cadangan emas dunia mencapai 31.949 ton. Sebanyak 8113,5 ton atau 25,45 persen dari cadangan tersebut dimiliki AS. Sebaliknya, Indonesia hanya memiliki 78,1 ton, atau 0,24 persen dari cadangan emas dunia.

Bahkan di ASEAN, jumlah cadangan emas Indonesia lebih rendah dibanding Thailand dan Singapura, yang masing-masing berjumleh 152,4 ton dan 127,4 ton.

Mengingat bumi Indonesia memiliki deposit emas yang relatif besar, maka seharusnya BI tidak menghadapi kesulitan berarti dalam meningkatkan cadangan emas moneternya. Dengan cadangan emas yang besar, BI bisa menjaga nilai cadangan devisa secara keseluruhan dan kestabilan rupiah dalam menghadapi dampak Brexit dan potensi terganggunya kondisi domestik AS. (asp)