Utang Swasta Bengkak, Asia Berpotensi Krisis Keuangan

Berutang.
Sumber :
  • U-Report

VIVA.co.id – Meningkatnya jumlah utang, sektor real estate yang berpotensi bubble (menggelembung) dan ancaman terhadap melambatnya pertumbuhan ekonomi mengancam kemampuan dalam penyelesaian pembayaran kredit swasta. Hal tersebut, mengarahkan Asia kepada krisis keuangan di seluruh wilayah.

Dilansir dari laman Business Insider, Selasa 26 Juli 2016, Kepala Ekonom Nomura, Rob Subbaraman mengatakan, saat ini, kredit swasta telah meledak di seluruh wilayah Asia dan mencapai 140 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Dari angka tersebut, 77,2 persen berasal dari pasar negara berkembang.
 
Utang swasta yang sangat mengkhawatirkan Asia saat ini terjadi di Tiongkok, di mana tingkat utang swasta negara Tirai Bambu tersebut melebihi 200 persen dari PDB pada kuartal IV tahun lalu. Atas tingginya utang tersebut, Tiongkok saat ini terus menjaga pasar perumahan stabil di tengah perlambatan produktifitas dan perlambatan ekonomi.

Kemudian, kekhawatiran terhadap Hongkong juga dirasakan di mana harga properti di negara itu terus melonjak hingga 105 persen dan utang swasta terhadap PDB meningkat ke 281 persen sejak krisis keuangan. Wilayah ini kemungkinan akan terjebak kondisi di mana ekonomi Tiongkok semakin melambat dan potensi naiknya suku bunga Amerika Serikat. 

Subbaraman mencatat, sektor properti selama ini menjadi pendorong utama terjadinya krisis di seluruh wilayah, yang dimulai dengan gelembung pasar perumahan. Hal itu juga mengingatkan potensi krisis perumahan yang pernah terjadi di AS dalam beberapa waktu terakhir.

"Yang membuat segalanya bisa lebih buruk adalah perlambatan pertumbuhan secara keseluruhan di Asia di luar Jepang, yang mencapai 6,2 persen, atau lebih rendah dari 2007 yang sebesar delapan persen. Ini semua, karena produktivitas turun, populasi menua dan Tiongkok melambat," jelas Subbaraman.

Untuk itu, ia memperingatkan, agar krisis itu tidak berdampak besar semua pengambil kebijakan perlu melihat beberapa faktor yang bisa memicunya, yaitu kenaikan suku bunga bank sentral AS, penguatan dolar AS, semakin mundurnya ekonomi Tiongkok dan keluarnya dana secara massal dari Asia yang menyebabkan likuiditas pasar mengering. (asp)