Penyebab Dolar AS Tergelincir di Bawah Rp13.000

Tumpukan uang rupiah pecahan lima puluh ribu.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Muhamad Solihin

VIVA.co.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada hari ini untuk pertama kalinya di tahun 2016 menembus posisi Rp12.930 per dolar. Sejak pertengahan 2015 lalu, dolar Paman Sam memang betah berada di level Rp13.000 per dolar AS.

Lantas, apa yang menyebabkan lengsernya dolar AS?

“Didorong oleh pelemahan indeks dolar AS terhadap mata uang utama dunia, setelah Gubernur Bank Sentral Jepang yang mendukung penguatan yen di Jepang,” ujar Ekonom PT Bank Permata Josua Pardede saat berbincang dengan VIVA.co.id, Selasa 27 September 2016.

Jatuhnya dolar pada level terendah pada tahun ini, lanjut Josua, dikarenakan adanya ketidakpastian jelang debat calon Presiden AS. Pada debat perdana yang digelar pada hari ini, pasar pun merespons negatif terhadap calon presiden AS dari Partai Republik, Donald Trump.

“Kebijakan ekonomi dari capres partai Republik cenderung akan mendorong melebarnya defisit fiskal yang berpotensi meningkatkan utang luar negeri AS,” katanya.

Selain itu, jatuhnya dolar AS juga disebabkan dari kenaikan harga minyak dunia, seiring dengan ekspektasi pemangkasan produksi minyak di beberapa anggota organisasi eksportir minyak OPEC.

Dilansir dari data perdagangan Reuters, Selasa 27 September 2016, rupiah anteng di level Rp12.945 per dolar. Setelah sempat di perdagangkan pada level tertinggi pada level Rp13.045 per dolar AS.

Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rata-rata rupiah diperdagangkan hari ini senilai Rp13.027 per dolar AS. Kurs ini menguat dibanding rata-rata perdagangan pasar keuangan kemarin di level Rp13.076 per dolar AS.