Usaha Pudding Art, Pria Ini Raup Rp20 Juta per Bulan

Sunarno (30), pemilik usaha De’nil Pudding Art
Sumber :

VIVA.co.id – Perkembangan masyarakat yang kian pesat, menuntut para pengusaha untuk terus berpikir kreatif dalam mengembangkan usahanya. Termasuk, pengusaha kuliner.

Para pengusaha kuliner saat ini tidak melulu menjual makanannya dalam bentuk, dan pemasaran yang konvensional. Melainkan, mereka juga harus membuatnya dalam bentuk semenarik mungkin, dan dengan pemasaran seluas mungkin.

Hal itu pulalah yang dilakukan oleh Sunarno (30), pemilik usaha De’nil Pudding Art. Pudding art, merupakan salah satu jenis kuliner berupa puding, yang memiliki berbagai bentuk, dan warna yang menarik.

Sunarno menceritakan awal mula memulai usaha pudingnya. Saat itu, dia baru saja tamat SMA dan tidak memiliki biaya untuk kuliah.

Sunarno pun mengikuti sejumlah bisnis kuliner. Dia kemudian menemukan ide untuk menjual puding. Ketika itu, bentuk puding yang dibuatnya masih biasa saja.

“Itu juga karena putus cinta, akhirnya jualan puding saja. Tapi waktu itu pudingnya masih biasa saja, makanya kurang laku,” kata Sunarno, di Surabaya.

Namun, belakangan dia menemukan cara, agar dagangannya itu laris di pasaran. Caranya, dengan menghias pudding miliknya itu. Sunarno menambahkan berbagai kreasi, agar dagangan pudingnya itu bisa diterima oleh masyarakat.

“Saya hias itu pudingnya, mulai dari dengan tambahan bentuk bunga, warna yang beragam, serta bentuk-bentuk yang indah yang lainnya,” ujar Sunarno.

Selain itu, Sunarno pun mengubah cara pemasarannya. Jika biasanya, dia memasarkan barang dagangannya secara konvensional, maka hal itu diubahnya dengan memasarkannya secara online, dengan menggunakan berbagai media sosial.

Alhasil, produk yang dihasilkan oleh Sunarno pun cukup laku di pasaran. “Peningkatannya cukup drastis, jika sebelumnya hanya Rp3 juta per bulan, maka sekarang sudah bisa Rp20 juta setiap bulannya,” kata Sunarno.

Sunarno berharap, usahanya itu bisa terus berkembang, bahkan hingga mampu menembus pasar internasional. “Setidaknya bisa menembus hingga negara-negara di Asia Tenggara, dan sekitarnya,” ujarnya. (asp)