Sri Mulyani Ungkap Perbedaan Kepemimpinan Jokowi dengan SBY

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati blusukan ke Mal Pasific Place
Sumber :
  • VIVA.co.id/Romys Binekasri

VIVA.co.id – Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, menceritakan pengalamannya bekerja sebagai “bendahara negara” dalam dua rezim berbeda. Dia mengungkapkan beberapa perbedaan dari sosok dua pemimpin negara dalam kurun waktu 10 tahun terakhir

“Dari sisi komitmen dan kepemimpinan, Pak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) berbeda sekali dengan Pak Joko Widodo. Dua profesional yang berbeda,” ujar Ani, sapaan akrab Sri Mulyani Indrawati, saat ditemui di Djakarta Theater, Jakarta, Selasa 29 November 2016.

Seperti diketahui, Ani pernah bekerja sebagai menteri keuangan di era Presiden SBY pada rentang 2005-2010, sebelum akhirnya memutuskan mundur, dan bergabung di jajaran direksi Bank Dunia.

Namun, pada pertengahan tahun ini, Presiden Jokowi meminta secara khusus kepada mantan direktur pelaksana Bank Dunia itu untuk kembali menduduki posisi bendahara negara dalam sisa masa kepemerintahan kabinet kerja. Ani pun menyetujui kembali menduduki posisi menteri keuangan karena melihat komitmen Jokowi.

“Saya diminta untuk menjadi pembantu presiden, dengan pemahaman penuh orang yang saya bantu (Jokowi) adalah pilihan rakyat, punya komitmen luar biasa. Tanggung jawab moral sebagai Menkeu, ada dalam ikatan kontrak itu,” ujarnya.

Selama empat bulan kembali menduduki posisi strategis, Ani mengaku terpukau dengan pendekatan yang dilakukan oleh Presiden Jokowi, untuk mencapai sebuah perubahan. Ada berbagai contoh mengenai hal itu.

Misalnya, seperti permasalahan waktu bongkar muat barang (dwelling time) yang relatif lama, saat ini sudah mulai membaik. Kemudian, soal berbagai aturan yang selama ini rumit, juga telah berhasil sedikit demi sedikit dihilangkan. Ini bukti nyata era kepemimpinan Presiden Joko Widodo.

Ani mengakui, apa yang dilakukan oleh Presiden maupun para pembantunya belum sesuai yang diharapkan oleh masyarakat. Namun, berbagai kebijakan yang sudah dikeluarkan mampu menjadi sebuah batu loncatan untuk menuju Indonesia yang lebih baik.

“Ini progres, dan lompatan untuk negara sebesar Indonesia. Remarkable (luar biasa),” ujarnya.