Bos Uber Undur Diri, Perusahaan Semakin Terpuruk

Logo Uber.
Sumber :
  • Carscoops

VIVA.co.id – Uber Technologies Inc, mengumumkan Jeff Jones mengundurkan diri dari posisinya sebagai presiden direktur perusahaan transportasi online tersebut, Minggu 13 Maret 2017. Hal itu membuat perusahaan yang berbasis di San Francisco, Amerika Serikat, itu semakin terpuruk di tengah gejolak internal perusahaan.  

Uber dalam beberapa minggu terakhir telah menghadapi sejumlah kasus kontroversial, dan menghadapi gugatan hukum dari Alphabet Inc, induk perusahaan Google. Reputasi Uber pun tercoreng terkait dugaan pelecehan seksual yang terjadi di perusahaan.

Dilansir Reuters, Senin 14 Maret 2017, Jones berhenti kurang dari tujuh bulan setelah bergabung dalam perusahaan itu. Pengunduran diri Jones menyusul pengunduran diri sejumlah eksekutif tingkat tinggi dalam perusahaan tersebut.

"Kami ingin berterima kasih kepada Jeff selama enam bulan di perusahaan, dan berharap yang terbaik untuknya," kata seorang juru bicara Uber dalam pernyataannya.

Bulan lalu, seorang mantan karyawan Uber mempublikasikan sebuah artikel blog yang menggambarkan Uber sebagai tempat kerja di mana pelecehan seksual sering terjadi dan tidak pernah ditindak. Blog tersebut memicu investigasi internal, yang dipimpin oleh mantan jaksa agung AS Eric Holder, dan seruan para pengguna untuk menghapus aplikasi Uber dari handphone.

Bulan lalu, engineering executive Uber, Amit Singhal, dipaksa mengundurkan diri terkait tuduhan kasus pelecehan seksual di perusahaan sebelumnya. Awal bulan ini, Ed Baker, wakil presiden pertumbuhan dan produk, dan Charlie Miller, peneliti keamanan, juga memutuskan meninggalkan Uber.  

Selain itu sebuah video yang dipublikasikan oleh Bloomberg memperlihatkan Chief Executive Uber, Travis Kalanick, memarahi seorang sopir Uber yang mengeluhkan tentang pemotongan tarif. Hal itu menyebabkan Kalanick membuat permintaan maaf publik.

Uber juga menghadapi gugatan hukum dari divisi mobil otomatis Alphabet Inc. Uber dituduh mencuri desain teknologi mobil otonom Alphabet, yang disebut Lidar. Uber menyatakan klaim itu palsu.   

Rangkaian kasus kontroversi tersebut membuat para analis dan investor mempertanyakan masa depan perusahaan itu.