Penulis Naskah Indonesia Ada di Titik Terlemah

Nia Dinata bicara soal penulis naskah di Indonesia
Sumber :
  • KBRI Den Haag

VIVA.co.id – Teknis produksi film Indonesia maju pesat. Tetapi, hal ini berbanding terbalik dengan penulisan naskah di Indonesia. Jumlah penulis naskah masih jauh dibandingkan dengan direktur fotografi yang menghasilkan gambar indah dalam film.

Ini tentu akan berdampak pada kualitas film dalam negeri, karena bagian terpenting dalam sebuah film adalah cerita. Cerita diibaratkan sebagai blueprint sama halnya ketika seseorang ingin membuat sebuah rumah. Cerita pula yang membuat penonton rela duduk lama menikmati film hingga selesai.

Menurut sutradara dan penulis naskah Nia Dinata, perkembangan penulis naskah di Indonesia tengah berada di titik paling lemah. Secara ide cerita, banyak penulis yang memiliki ide luar biasa. Tapi, dalam hal bercerita mereka masih memiliki kelemahan.

"Seringkali ketika mengadakan workshop dengan memanggil mentor dari Hollywood atau Eropa, yang mereka keluhkan adalah orang Indonesia idenya bagus, tapi ketika menuliskan ke skenario masih memakai format sinetron, tidak out of the box," ujar Nia saat ditemui di The Hermitage Menteng, Jakarta, Jumat 24 Maret 2017.

Padahal, dalam bercerita bisa dengan cara yang lebih kreatif dan beragam, bisa dengan linear, imajinatif, atau realistis. Jika terjebak dalam kotak, itulah yang berbahaya.

Penyebab kurangnya kemampuan mengembangkan cerita ini, Nia menilai, adalah kurangnya alternatif tontonan selain televisi yang bisa dilihat sehingga membuat mereka terbawa dengan format yang sama.

Penyebab lainnya adalah kurangnya minat anak-anak muda di bidang menulis skenario dibanding profesi lain di produksi film.

"Karena dari membuat film yang paling susah adalah naskah. Dan yang buat orang ketika masuk dunia film adalah ketika syutingnya. Kalau skrip mereka harus duduk lama, bosan, tidak dilihat orang, tidak ada di set, tidak bisa selfie terus di-upload di sosial media. Keinginan anak sekarang kelihatan kerja di set filmnya," ujar Nia.

Apalagi, lanjut Nia, menulis merupakan proses menantang. Menulis lebih menekankan pada proses internal dibandingkan eksternal.