Curhat Petani, Impor Tembakau RI Melebihi Produksi Lokal

Pekerja melakukan proses pengeringan daun tembakau untuk cerutu di Koperasi Agrobisnis Tarutama Nusantara, Ajung, Jember, Jawa Timur, Sabtu (27/8/2016)
Sumber :
  • ANTARA FOTO/Seno

VIVA.co.id – Ketua Umum Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI), Agus Parmuji, mengungkapkan tidak adanya regulasi pembatasan impor tembakau dari pemerintah membuat Indonesia kebanjiran tembakau impor. Ini sekaligus mematikan tembakau produksi petani Indonesia.

"Impor tembakau dari China, Turki, Amerika Serikat dalam satu tahunnya mencapai 335 ribu ton, sedangkan produksi petani Indonesia mencapai 235 ribu ton sehingga ada selisih 100 ribu ton. Namun, dalam kenyataan, produksi tembakau petani Indonesia tak terserap," kata Agus di sela-sela Musyawarah Daerah APTI di Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis 30 Maret 2017.

APTI merasa bahwa maraknya impor tembakau dari luar negeri ini telah mengancam kedaulatan tembakau di Indonesia ditambah adanya gerakan dari luar negeri untuk mengkonsumsi rokok rendah nikotin dan tar sehingga permintaan tembakau untuk memproduksi rokok rendah nikotin dan tar sangat tinggi.

"Sayangnya bea masuk impor tembakau yang ditetapkan pemerintah rendah mendorong impor tembakau semakin tinggi," lanjut Agus.

APTI sendiri terus mendorong kepada pemerintah untuk membuat regulasi impor tembakau sehingga tidak merugikan petani. APTI saat ini sedang mendata luas lahan tembakau, produksi tembakau dan varietas tembakau. Data tersebut akan kita sampaikan kepada Menteri Perdagangan untuk menjadi masukan membuat aturan impor tembakau.

"Anehnya, ketika melakukan pendataan dan bekerjasama dengan Dinas Pertanian, justru data yang dimiliki Dinas Pertanian tak jelas sehingga kita turun sendiri ke lapangan," kata Agus. (ren)