Saham Bumi Mulai Aktif Ditransaksikan

Sumber :

VIVAnews - Setelah terkena auto rejection selama enam hari terakhir, harga saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) kembali aktif ditransaksikan pada awal transaksi Jumat, 14 November 2008. Harga saham emiten grup Bakrie itu sempat berbalik arah menguat Rp 70 (5,93 persen) ke level Rp 1.250 pada 10 menit pertama transaksi.

Namun, selanjutnya harga BUMI berfluktuasi dan kembali terkoreksi menjelang 30 menit pertama transaksi. Harga BUMI terkoreksi Rp 30 (2,54 persen) menjadi Rp 1.150 pada pukul 09:57 WIB.

Volume transaksi yang dibukukan juga cukup besar dan sempat mencapai Rp 522,5 miliar dengan volume saham berpindah tangan sebanyak 901,96 ribu lot.

Pengamat pasar modal Gifar Indra Sakti mengatakan, upaya manajemen Bumi Resources yang menyiapkan dana hingga Rp 8 triliun untuk pembelian kembali (buyback) saham memicu sentimen positif ke pasar. "Ini yang memicu euforia sesaat di awal sesi perdagangan hari ini," kata Gifar kepada VIVAnews di Jakarta.

Namun, menurut dia, penguatan harga BUMI hingga akhir sesi hari ini dinilai cukup berat. Hal itu dipicu oleh tekanan jual yang masih cukup besar.

Sebelumnya, Bumi Resources berencana untuk membeli kembali saham maksimal 3,29 miliar unit atau 17 persen dari jumlah saham yang ditempatkan dan disetor penuh. Dana untuk pembelian kembali saham mencapai Rp 8,24 triliun.

Direktur Utama Bumi Resources Ari S Hudaya dalam keterbukaan informasi perseroan yang dipublikasikan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Kamis 13 November 2008 mengatakan, rencana pembelian kembali saham tersebut sudah melalui pembahasan dan analisis internal serta memeroleh persetujuan dewan komisaris.

"Dana untuk pembelian kembali saham itu berasal dari pinjaman dan kas internal," jelas dia dalam keterbukaan informasi itu. Perseroan akan membeli kembali saham pada harga rata-rata Rp 2.500 per unit.

Pembelian kembali saham akan dilakukan selama tiga bulan terhitung sejak penyampaian laporan keterbukaan informasi kepada Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) dan PT Bursa Efek Indonesia (BEI).