Bos Indosat Luruskan Soal Surat Tarif Data
- VIVA.co.id/Afra Augesti
VIVA.co.id – Pasca melayangkan surat protes kepada Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, yang ditembuskan kepada Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution, pada Senin 17 Juli 2017, PT Indosat Ooredoo Tbk buka suara.
President Director & Chief Executive Officer Indosat Ooredoo Alexander Rusli membeberkan alasan mengapa perusahaannya mengajukan keluhan tersebut kepada Chief RA, sapaan akrab Rudiantara. Menurutnya, persaingan industri telekomunikasi saat ini sudah semakin tidak sehat, khususnya dalam perang tarif internet.
"Sebenarnya, pemikiran untuk mengirim surat sudah lama. Hanya, kami merasa ini waktu yang tepat untuk menyampaikan kepada pemerintah secara formal. Selama ini, kita sudah ketemu, diskusi, dan lain sebagainya, tetapi belum ada hal yang sifatnya formal. Oleh karena itu kami kirimi surat ini, secara formal, agar ada dialog secara formal," ujar Alex saat ditemui di kantor Indosat, Jakarta, Jumat 21 Juli 2017.
Ia menegaskan, melalui cara ini, Indosat hanya ingin menyampaikan adanya penurunan yield data (total pendapatan data dibagi dengan total trafik data), bukan meminta adanya penrunan tarif data. Penurunan yield data, kata Alex, disebabkan oleh persaingan tak sehat itu. Pengaduan kepada Kominfo dimaksudkan agar pemerintah menyediakan lahan kompetisi yang baik bagi seluruh operator.
"Bukan (tarif data), ini soal yield. Karena kalau tarif (data) kan banyak sekali macamnya. Ada variabel diskon, ada bonus per daerah seperti apa, ada jam pagi dan jam malam. Jadi memang variannya terlalu banyak untuk segmen ini, segmen pasca bayar dan pra bayar. Beda semua," tuturnya.
Dengan cara seperti ini, Indosat menyatakan kepada Kominfo bahwa yield data mereka terus menurun dan tren ini membuat mereka khawatir, karena pada akhirnya yang harus menanggung kerugian adalah pelanggan.
"Kami selalu mencari jalan untuk selalu survive, tapi kami tidak mau kualitas Indosat dan role up ke luar daerah berkurang. Kami ingin mengarahkan pemerintah untuk menciptakan kompetisi yang sehat, sehingga semua operator bisa terus membangun perekonomian bangsa dengan baik," ucapnya.
Sebelumnya dalam surat No. 621/AE0-AEJ/REL/17 ke Menkominfo, Alexander Rusli memprihatinkan kondisi persaingan usaha di industri telekomunikasi, terutama dalam layanan komunikasi data. Menurut Alexander Rusli, persaingan dalam tarif internet itu sudah tidak sehat karena terjadi perang tarif.