Hikmah Penting di Balik Gangguan Satelit Telkom 1

Satelit Telkom 1 atau A2100 buatan Lockheed Martin.
Sumber :
  • www.lockheedmartin.co.uk

VIVA.co.id – Gangguan yang melanda Satelit Telkom 1 dinilai menjadi pelajaran bagi dunia telekomunikasi di Indonesia. Sebab dampak yang terjadi pada satelit itu telah membuat puluhan ribu site, yang mayoritas anjungan tunai mandiri milik sejumlah perbankan, tak bisa digunakan. 

Chairman Communication and Information System Security Research Center (CISSReC), Pratama Persadha mengatakan, hikmah yang bisa diambil dari insiden itu yakni kemandirian satelit bagi keperluan masyarakat Indonesia. Khususnya kalangan perbankan, idealnya punya satelit sendiri untuk melayani nasabahnya di area perkotaan sampai di area terpencil. 

"Kalau punya, kan bisa manage sendiri, (nasabah) yang ada di area terpencil," ujar Pratama kepada VIVA.co.id, Jumat 1 September 2017. 

Catatan kedua menurutnya, hendaknya entitas bisnis yang ingin meluncurkan satelit sendiri harus memerhatikan betul sisi keamanan satelit. Sebab satelit pun bisa diretas dan diubah posisinya. Pratama menuturkan, keamanan satelit bisa dilakukan dari dua sisi fisik dan non fisik.

"Orang pakai satelit itu butuh sekuriti, butuh pertahanan fisik ya harus dibuat satelit agak mahalan dikit lah, agar bisa tahan badai matahari," ujarnya. 

Untuk keamanan non fisik, pakar telik sandi itu juga menyarankan, perbankan atau entitas bisnis untuk membuat firewall yang bagus dan sistem teknologi informasi yang benar-benar aman. Hal ini penting dilakukan, sebab pengguna atau nasabah tak mau pusing, keinginan mereka hanyalah sederhana, layanan normal tak ada gangguan.

Hal lain yang menjadi hikmah dari insiden Satelit Telkom 1, menurut Pratama yaitu, pemilik satelit harus punya backup satelit. Dalam sisi ini, pria kelahiran Cepu, Jawa Tengah ini menyarankan pemerintah agar segera meluncurkan satelit sendiri. 

Dia mengetahui pemerintah memang berencana meluncurkan satelit khusus. Namun rencana tersebut masih mentok dalam pembahasan.

"Rata-rata (satelit) itu harganya Rp10 triliun itu sudah bagus. Efisiensi dari pemotongan subsidi BBM itu kan dapat Rp80 triliun. Jangan dipakai untuk infrastruktur (fisik) semua lah, kalau tidak ya pikirkan infrastruktur teknologi," katanya.

Telkom terus mengupayakan percepatan pemulihan layanan pelanggan Satelit Telkom 1 yang mengalami anomali mulai Jumat 25 Agustus 2017. Dengan mengerahkan lebih dari 1000 teknisi Telkom Group di seluruh Indonesia, BUMN telekomunikasi itu telah berhasil memulihkan layanan sesuai dengan target harian yang direncanakan.

Sejak dimulainya upaya pemulihan layanan, realisasi repointing antena ground segment hingga Kamis malam 31 Agustus 2017, telah mencapai lebih dari 100 persen dari target kumulatif harian. Tercatat jumlah site yang berhasil dipulihkan secara total sebanyak 5.912 site. Dengan kata lain, sejauh ini proses pemulihan telah berjalan sesuai rencana.