Indonesia, Peringkat 4 Infeksi Ransomware Se-Asia Pasifik

Chief Technology Officer Symantec, Matthias Yeo
Sumber :
  • VIVA.co.id/Afra Augesty

VIVA.co.id – Lanskap ancaman siber tengah berkembang akhir-akhir ini. Isu-isu terbesar yang dihadapi industri antara lain beragam definisi pengguna yang kompleks, pergantian permukaan serangan data, perluasan perimeter, dan serangan berlipat ganda yang multitahap. Selama beberapa bulan terakhir, solusi keamanan siber Symantec telah mengamati peningkatan malware multitahap. Indonesia termasuk salah satu korban incaran para penyebar ransomware.

Chief Technology Officer Symantec, Matthias Yeo mengatakan, malware jenis ini mampu menyamar dalam lalu lintas terenkripsi dan pengunduhan diam-diam sebagai sebuah mekanisme untuk ancaman lanjutan yang terus-menerus. Laporan Internet Security Threat Report (ISTR) tahunan dari Symantec mencatat, Indonesia menempati peringkat ke-14 dalam hal infeksi ransomware dari mesin khusus dan urutan ke-4 di wilayah Asia Pasifik.

"Satu dari 156 email di Indonesia menyimpan serangan malware dan lebih dari 40.000 serangan ransomware terdeteksi oleh Symantec setiap bulannya. Selama enam bulan pertama tahun ini, kami mendata bahwa perusahaan semua sektor menyumbang 42 persen dari total infeksi serangan ransomware, naik 30 persen dari tahun 2016 dan 29 persen pada tahun 2015. Peningkatan ini terutama diakibatkan oleh WannaCry dan Petya," ucapnya di Jakarta, Senin 11 September 2017.

Untuk itulah, Symantec dengan solusi-solusinya menawarkan perlindungan yang belum pernah ada sebelumnya bagi generasi pengguna cloud (komputasi awan). Symantec mengklaim sebagai satu-satunya vendor yang menghubungkan perlindungan endpoint, email, dan situs di satu platform intelijen terpadu. Misalnya, dengan menghadirkan Integrated Cyber Defense Platform bagi para pelanggan perusahaan enterprise.

"Fokus kami ada pada penyediaan visibilitas dan kendali bagi para CISO (chief information security officer) terhadap seluruh konten sensitif yang diunggah, disimpan, dan dibagikan oleh pengguna via cloud, serta melindungi informasi rahasia melalui semua tahapan siklus, di mana pun dan ke mana pun informasi rahasia itu berada," papar Yeo.

Dalam praktiknya, perusahaan yang bermarkas di Singapura ini terus memercepat pengintegrasian berbagai solusi dan memberikan portofolio produk gabungan. Hal itu perlu dilakukan untuk menghadirkan solusi pertahanan siber terpadu di seluruh lingkungan teknologi informasi pelanggannya.