Tinjau Produksi Tahu-Tempe, Mentan Tetapkan Harga Kedelai Impor

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo Tinjau Produksi Tahu-Tempe di Semanan
Sumber :
  • VIVA/Andrew Tito

VIVA – Menteri PertanianSyahrul Yasin Limpo, memastikan pasokan kedelai impor tetap terkendali. Hal itu disampaikan di tengah naiknya harga kedelai yang membuat produksi tahu-tempe sebelumnya sempat terhenti beberapa hari.

Dalam kunjungan kerjanya di wilayah produksi tahu-tempe Semanan, Kalideres Jakarta Barat, Syahrul mengatakan, harga kedelai impor per kilogram sudah ditetapkan Rp8.500.

Harga itu ditetapkan Syahrul usai ribuan perajin tempe se-Jabodetabek mogok massal lantaran harga kedelai yang terus meroket. Dalam peninjauan itu, Syahrul memastikan bahwa pasokan kedelai impor terkendali walau dalam kenyataannya harga tahu dan tempe di pasaran juga naik.

Menurutnya, naiknya harga kedelai impor diduga karena situasi dunia yang tidak pasti karena pandemi COVID-19. Dalam hal ini, Syahrul mengatakan, kenaikan harga kedelai merupakan pengaruh dari pandemi.

"Kontraksi pada kedelai itu adalah karena pengaruh global terjadi. Selama ini tempe yang kita pakai juga adalah tempe impor karena jauh lebih murah," ujar Syahrul di wilayah produksi tahu-tempe Semanan, Kalideres, Jakarta Barat.

Baca juga: Aktivitas Gunung Merapi Meningkat, Warga Kembali Mengungsi

Dengan kenaikan harga kedelai kali ini, Syahrul menjelaskan, pihaknya dan menteri perdagangan RI pun sudah dipanggil oleh Presiden Joko Widodo. Kementerian Pertanian bersama Kementerian Perdagangan ditugaskan Presiden untuk menjalin diskusi dengan asosiasi perajin tempe dan importir kedelai terkait harga yang akan disepakati.

Harga yang disepakati untuk kedelai impor dengan merek Bola dari Amerika Serikat adalah Rp8.500 per kilogram di pasaran Indonesia.

Awalnya harga kedelai berkisar Rp7.500 per kg, sebelum akhirnya merangkak naik Rp2.000 per kg pada Desember 2020 hingga menjadi Rp9.500.

Syahrul mengatakan, upaya pihaknya untuk mengembalikan kestabilan harga kedelai di Indonesia akan dilakukan dalam jangka waktu 100 hari ke depan sesuai dengan perintah Presiden.

"Kami harap 100 hari ini kondisi dinormalkan seperti perintah Bapak Presiden," ujarnya.

Pihaknya juga akan melibatkan TNI dan Polri apabila menemukan kendala dalam distribusi kedelai impor di pasaran.

Diketahui sebelumnya, ribuan perajin tempe dan tahu se-Jabodetabek sempat mogok produksi massal selama tiga hari dengan maksud memprotes kenaikan harga kedelai yang otomatis berimbas pada kenaikan harga tahu-tempe.

Usai mogok, harga tempe dan tahu di pasaran pun dinaikkan 20 persen akibat dampak kenaikan harga kedelai.