Pertahankan Kinerja, DEWA Lanjutkan Efisiensi Operasional

Tambang batu bara
Sumber :
  • www.warwick.ac.uk

VIVA – Emiten kontraktor pertambangan grup Bakrie, PT Darma Henwa Tbk (DEWA) mengaku berhasil mengembangkan dan menjalankan strategi dalam menekan biaya operasi dan meningkatkan produksi selama 2020.

Manajemen DEWA mengatakan upaya menekan biaya operasi dilakukan dengan melalui program perawatan yang efisien dengan global sourcing dan meningkatkan produksi dengan fleet produksi Perseroan.

Dari sejumlah strategi tersebut, DEWA mencatat volume removal material yang dihasilkan armada sendiri sebesar 54,82 juta bcm pada tahun 2020, meningkat 6,6 persen dibandingkan pada 2019.

Sehubungan dengan keberhasilan strategi ini, DEWA menginformasikan bahwa kapasitas fleet produksi telah meningkat 16 persen pada 2020, dan dengan itu DEWA juga berhasil mengurangi peralatan biaya pemeliharaan menjadi US$20,82 juta atau turun 33 persen dari 2019 yang menghasilkan 2,1 persen ekspansi margin pada 2020.

Selain itu, perseroan juga berhasil mencatatkan kinerja yang baik di 2020. Di tengah pandemi COVID-19, DEWA mencatatkan Operating EBITDA sebesar US$42,53 juta pada akhir 2020, meningkat 1,5 persen dari US$41,89 juta pada 2019. Sedangkan laba bersih komprehensif tercatat US$2,33 juta.

Dengan mengurangi biaya perbaikan dan pemeliharaan peralatan serta langkah-langkah efisiensi yang berkelanjutan dalam menggunakan strategi fleet produksi, DEWA mampu menekan biaya subkontraktor dan sewa peralatan biaya. Akibatnya, beban pokok pendapatan turun 8,71 persen menjadi US$295,73 juta pada 2020 dari sebelumnya US$323,93 juta pada 2019. 

Namun, penurunan biaya perbaikan dan pemeliharaan ini belum diikuti dengan penurunan gaji dan upah pada tahun 2020, dan diharapkan menjadi inisiatif perbaikan improvement yang dapat ditingkatkan lebih lanjut pada 2021.

"Perusahaan berusaha untuk memaksimalkan ketersediaan dan pemanfaatan peralatan yang ada, sekaligus meningkatkan produksi, sekaligus menjaga efisiensi biaya perbaikan alat berat melalui sumber global," kata Wakil Presiden Direktur & CEO DEWA, B. Prabhakaran dalam keterangan tertulisnya, Selasa 8 Juni 2021.

Prabhakaran menjelaskan, biaya modal merupakan biaya utama bagi usaha kontraktor pertambangan. Untuk mencapai efisiensi biaya modal, pada 2020 DEWA telah memulai pembangunan bengkel dan alat berat pusat perbaikan peralatan di Balikpapan. 

Menurut dia, bengkel ini dilengkapi dengan fasilitas untuk pembangunan kembali, perbaikan, dan rekondisi alat berat termasuk komponennya. 

Untuk itu, DEWA akan meningkatkan dan menyebarkan sejumlah peralatan pada 2021 guna memenuhi target volume yang lebih tinggi untuk PT Kaltim Prima kliennya Coal (KPC), PT Arutmin Indonesia (AI), dan PT Cakrawala Langit Sejahtera (CLS).

Lebih lanjut, Prabhakaran mengatakan bahwa strategi ini akan membantu DEWA memberikan nilai tambah bagi kliennya yang akan mendorong DEWA untuk lebih bersaing dalam bisnis jasa pertambangan dan meningkatkan pasar saham.

Sementara dari sisi operasional, DEWA mencatat produksi batu bara sebesar 16,58 juta ton secara keseluruhan 2020. Sedangkan, overburden removal mencapai 111,60 juta bcm. 

Tambang batu bara Bengalon di Timur Kalimantan memegang porsi terbesar dari produksi DEWA dengan kontribusi 69 persen diikuti oleh Tambang batu bara Asam Asam di Kalimantan Selatan dan tambang batu bara Satui di Kalimantan Selatan.

Selama 2020, pendapatan DEWA tercatat sebesar US$303,19 juta, turun 12,03 persen dari tahun lalu sebesar US$344,65 juta. Penurunan pendapatan ini karena DEWA dihentikan satu subkontraktornya di tambang batu bara Bengalon pada pertengahan 2020 untuk memperoleh manfaat ekonomi yang lebih baik. 

Dengan penghentian subkontraktor dan inisiatif efisiensi biaya, DEWA membantu meningkatkan margin meskipun pendapatan yang turun. Margin EBITDA operasi DEWA pada 2020 meningkat sebesar 1,87 persen menjadi 14,03 persen dibandingkan dengan marjin 2019 sebesar 12,15 persen.

Selain menjaga produktivitas dan mengurangi biaya, DEWA juga menunjukkan peningkatan dalam manajemen utang. Tahun lalu, liabilitas Perseroan turun 10,79 persen dari US$315,26 juta menjadi US$281,24 juta. 

"Komponen liabilitas jangka panjang dan jangka pendek berkontribusi terhadap penurunan dalam kewajiban ini," tegas Prabhakaran.

Sedangkan, rasio utang terhadap ekuitas DEWA juga menurun. Pada akhir 2020, rasio utang terhadap ekuitas Perseroan adalah 41,92 persen, turun dari sebelumnya 49,59 persen. 

Sementara itu, ekuitas DEWA tumbuh sebesar 15 persen dari US$234,26 juta menjadi US$269,40 juta didukung oleh laba Perseroan dan revaluasi Aset DEWA di Pendopo Energi Batu bara dibagikan pada nilai pasar wajar. 

Untuk informasi, Pendopo Energi Batu bara adalah pemilik tambang batu bara dengan cadangan batu bara lebih dari 1 Miliar ton. Hingga akhir 2020, total aset DEWA tumbuh 0,20 persen menjadi US$550,64 juta dari US£549,52 juta pada 2019. 

Aset tetap meningkat sejalan dengan program perbaikan dan pemugaran peralatan, yang akan mendukung strategi DEWA untuk melakukan lebih banyak pekerjaan in-house dengan menggunakan peralatan sendiri.

Pada 2020, DEWA juga mengakuisisi aset konsesi pertambangan emas di Aceh. Akuisisi aset ini adalah sejalan dengan strategi DEWA untuk diversifikasi portofolionya dari batu bara ke mineral lainnya. 

Pada 2021, DEWA akan melanjutkan strateginya untuk membangun kembali lebih banyak peralatan yang akan membantu meningkatkan volume untuk kepentingan klien dan juga meningkatkan profitabilitasnya di masa depan.