Indonesia Kalah Pengaruh Dibanding Singapura dan Malaysia

Pengaruh Indonesia di kawasan Asia Pasifik dianggap masih kalah dibandingkan Singapura dan Malaysia
Sumber :
  • abc

Sebuah lembaga pemikir terkemuka di Australia Lowy Institute mengeluarkan daftar negara-negara berpengaruh di Asia dan menempatkan Indonesia hanya di urutan ke-10 secara keseluruhan.

Dalam daftar bernama Asia Power Index Tahun 2018 ini Indonesia kalah berpengaruh dibandingkan Singapura yang berada di peringkat 8 dan Malaysia di peringkat 9.

Daftar ini melakukan penilaian terhadap 25 negara yang berada di kawasan Asia Pasifik.

Amerika Serikat dan China mendominasi peringkat atas disusul Jepang, India dan Rusia.

Prof Ariel Heryanto dari Monash University memberikan reaksi atas pemeringkatan tersebut.

Kepada wartawan ABC Sastra Wijaya, Prof Ariel mengatakan tidak kaget dengan apa yang disimpulkan Lowy Institute tersebut.

"Tidak kaget. Kesan saya, secara umum para politikus Indonesia dan masyarakat pada umumnya sejak tahun 1970-an sibuk dengan masalah-masalah dalam negeri," jelasnya.

"Jadi mereka kurang berminat menjadi pemain besar dunia. Tidak seperti zaman Bung Karno yang mengguncang-guncang dunia sejak proklamasi 1945," kata Prof Ariel yang sekarang menjadi profesor pada Herb Feith Foundatioan di Monash University Melbourne tersebut.

Menurut dia, karena Indonesia negara berpenduduk besar dan majemuk dengan wilayah yang luas, maka sebagian besar perhatiannya tercurah pada upaya memelihara persatuan, dan mengatasi benih-benih perpecahan.

Karenanya perhatian untuk memperbesar pengaruh di mancanegara bukanlah prioritas.

Dalam peringkat pengaruh secara keseluruhan, Indonesia mendapat angka 20,0 dari angka tertinggi 100. Amerika Serikat berada di peringkat pertama dengan nilai 85,5, disusul China 75,5, dan Jepang 42,1.

Australia berada di peringkat keenam, Singapura di peringkat 8 dengan nilai 27,9, dan Malaysia di peringkat 9 dengan 20,6 poin.

Selain pengaruh keseluruhan, Lowy Institut mendasarkan pemeringkatan itu pada delapan kategori yaitu sumber ekonomi, kekuatan militer, ketahanan, kecenderungan di masa depan, pengaruh diplomatik, hubungan ekonomi, kekuatan pertahanan dan pengaruh budaya.

Dalam indeks mengenai pengaruh budaya, Indonesia juga berada di peringkat lebih rendah dibandingkan negara serumpun seperti Malaysia.

Indeks Pengaruh Asia 2018

Pengaruh budaya juga kalah dari Malaysia dan Singapura.Untuk pengaruh di bidang budaya Indonesia berada di peringkat 11, sementara Malaysia di peringkat 6.

Menurut Prof Ariel Heryanto apa yang membuat Indonesia kalah pengaruh dari Malaysia dalam soal ini?


Prof Ariel Heryanto dari Monash University

Foto: Istimewa

"Menurut saya, salah satu dari beberapa kemungkinan sebabnya adalah jumlah dan tingkat kefasihan rata-rata masyarakatnya menggunakan bahasa Inggris dalam berbagai forum internasional," jelasnya.

"Ini termasuk publikasi akademik dan non-akademik. Maklum, karena Malaysia pernah dijajah lama oleh Inggris," kata Prof Ariel.

Hal yang paling positif bagi Indonesia dalam indeks Lowy Institut ini yaitu dalam kategori kecenderungan di masa depan (future trend) dari sisi kemungkinan kekuatan ekonomi, kependudukan dan miiliter.

Untuk kategori tersebut Indonesia berada di peringkat keempat, setelah China, Amerika Serikat dan India.

"Ini juga sedikit banyak didorong oleh kenaikan jumlah penduduk yang akan menjadi aset dan sumber daya luar biasa. Kekuatan produksi maupun pasar konsumsi yang luar biasa," jelasnya.

"Seperti halnya AS, RRC dan India, Indonesia menjadi negara dengan jumlah penduduk terbesar di dunia," kata Prof Ariel.

Dalam peringkat secara keseluruhan, Australia berada di peringkat cukup tinggi yaitu tempat ke 6 dari 25 negara.

"Australia sangat majemuk, tetapi masalah-masalah dalam negeri di sini bisa dikatakan relatif "beres" dan stabil, walau tidak sepenuhnya demikian," katanya.

"Jadi bisa lebih leluasa bermain di panggung global. Juga perlu. Letak Australia sangat terpencil, sehingga dia lebih perlu memperhatikan dan minta diperhatikan dunia ketimbang misalnya Indonesia," demikian Prof Ariel Heryanto.