Tak Akurat, Sejarah Datangnya Kapten Cook ke Australia Mulai Dikoreksi

Kapten Cook dari Inggris bersama krunya saat mendarat pertama kali di Australia. Apa yang dikatakan saat itu kini dibantah.
Sumber :
  • abc

Kisah pendaratan Kapten James Cook dari Inggris ke Teluk Botany sudah tak asing lagi bagi kebanyakan orang Australia. Tapi warga keturunan Aborigin menyebut adanya kekeliruan dalam kisah tersebut.

Tepat 250 tahun lalu, Kapten Cook bersama kru kapal HMS Endeavour tiba di Australia tanggal 29 April 1770, sore hari. Kisah pendaratan mereka selama ini hanya bersumber dari versi buku harian pelaut-pelaut Inggris di kapal itu.

Mereka menggambarkan saat hendak berlayar ke arah pantai mendapat ancaman dari penduduk asli yang berada di sana.

Sydney Parkinson, seorang seniman yang bekerja di kapal, menulis dalam buku hariannya bahwa penduduk setempat membuat gerakan mengancam dengan tombak sembari berteriak "warra warra wai", seolah menyuruh mereka "pergi dari sini".

Selama ratusan tahun isi buku hariannya itulah yang jadi sumber kisah kontak pertama pelaut Inggris dan orang Aborigin.

Kini para keturunan orang Aborigin mengoreksi hal itu, dengan memberikan perspektif mengenai makna sebenarnya dari teriakan para pejuang Aborign yang menentang para pendatang itu.


Ray Ingrey dari dewan tanah adat aborigin La Perouse.

ABC News: Elana de Bruijne

"Warra adalah kata dasar yang artinya putih atau mati dalam bahasa kami," ujar Ray Ingrey, warga suku Dharawal dan wakil ketua Dewan Tanah Adat Aborigin La Perouse.

"Selama ini karena orang luar yang selalu menceritakan kisah kami, kata ini diterjemahkan secara berbeda menjadi "pergi"," katanya.

"Bagi orang luar mungkin akan berpikir arti kata itu adalah "pergi". Tapi bagi kami artinya adalah "Kalian semua sudah mati"," tambah Ingrey.

Meskipun mungkin terdengar sebagai ancaman, namun kata-kata yang diteriakkan orang Aborigin itu, menurut Ingery, boleh jadi ditujukan kepada penduduk asli Australia saat itu sebagai peringatan datangnya bahaya.


Gambar rekaan menunjukkan dua warga aborigin mengacung-acungkan tombak ke arah kapal Kapten Cook, dibuat berdasarkan cerita versi pelaut Inggris.

"Ketika leluhur kami melihat kedatangan kapal HMS Endeavour, mereka menganggap hal itu sebagai segumpal awan rendah karena yang mereka lihat hanyalah layar putih di kejauhan," katanya.

"Dalam budaya suku Dharawal, awan rendah itu merupakan arwah orang mati yang kembali ke kampung mereka. Jadi mereka seperti melihat datangnya hantu," jelas Ingrey.

Dari perspektif penduduk setempat, katanya, tindakan dua orang pejuang Aborigin yang menentang kedatangan para pelaut Inggris ke pantai merupakan upaya spiritual melindungi kampungnya dari hantu.

Perspektif seperti inilah yang menurut Ingrey seharusnya lebih banyak dipahami mengenai kisah pendaratan pertama Kapten Cook itu.

"Hal itu tidak mengurangi arti dari upaya James Cook, sebagai penjelajah yang luar biasa. Namun, sejarah menunjukkan ketika suatu tempat diduduki, sejarah yang sebenarnya pun dihancurkan atau disalahartikan," kata Ingrey.

"Sudah lama, masyarakat kami meminta agar kami menceritakan kisah kami dengan cara kami sendiri," tambahnya.


Buku harian Joseph Banks, seorang botanis, yang ikut dalam pelayaran kapal HMS Endeavour, mendeskripsikan momen kontak pertama dengan penduduk aborigin di tahun 1770.

ABC News: Elena De Bruijne

Upaya mengoreksi kembali perspektif buku harian pelaut-pelaut Inggris kini dilakukan para pemuka suku Dharawal bersama perpustakaan, museum, dan ahli bahasa.

Bila hal ini terwujud, ia berharap akan hadir kisah yang lebih otentik dan masuk akal mengenai kontak pertama penduduk asli dengan pelaut Inggris.

Pengembalian bukti fisik

Upaya meluruskan sejarah 250 tahun silam itu juga dilakukan Theresa Ardler dari suku Gweagal dan Yuin.

Catatan tertulis dari buku harian kru Kapten Cook menjelaskan adanya konflik yang terjadi saat kontak pertama antara dua budaya tersebut.

Buku harian menggambarkan orang Aborigin mengancam para kru kapal, sampai pada akhirnya tembakan dilepaskan ke arah mereka, tapi tidak dijelaskan apakah penduduk setempat itu hidup atau mati.

Theresa mengaku sebagai keturunan prajurit Gweagal, bernama Cooman, yang merupakan salah satu dari dua pejuang yang hari itu membela kampungnya dari para pelaut Inggris.

Dia mengatakan sejarah lisan yang diwariskan para tetua sukunya berbeda dengan yang ada dalam buku sejarah.


Theresa Ardler, warga suku Gweagal dan Yuin, terus berjuang untuk meluruskan pemahaman sejarah Australia.

ABC News: Elena de

"Saya duduk di kelas 1 SMA ketika belajar mengenai Cook, membaca sebuah buku yang menyebutkan peluru ditembakkan di bagian atas kepala mereka [para pejuang Aborigin]," jelasnya.

"Saya ingat waktu itu langsung berdiri dan mengatakan kalau cerita ini keliru, bukan sejarah yang sebenarnya, karena kakek saya tertembak," kata Theresa.

Sampai kini ia terus berusaha agar bukti fisik dari konflik kontak pertama itu dikembalikan ke Australia.

Salah satu bukti yang dimaksud yaitu perisai kulit dengan lubang peluru, bernama "Perisai Gweagal", yang kini disimpan di British Museum.

Pihak British Museum menyatakan anggapan perisai itu milik pejuang Aborigin bernama Cooman ketika ditembak oleh pasukan Kapten Cook masih merupakan "anggapan dan belum terkonfirmasi".

"Kami tetap menunggu untuk mendapatkan perisai itu kembali, karena hubungan spiritual kami dengan objek-objek itu," kata Theresa.

Arsip Kapten Cook External Link: This Is Our Country

Sejumlah catatan formal yang membentuk pemahaman soal pendaratan Cook kini dibuka untuk umum.

Perpustakaan Negara Bagian New South Wales untuk pertama kalinya memamerkan secara online beberapa buku harian dari kapal HMS Endeavour yang telah didigitalisasi.

Pameran ini mengeksplorasi kedatangan kapal dan waktu delapan hari yang dihabiskan di kawasan Botany Bay, tapi fokusnya pada "cerita dari pantai" yang kurang dikenal.

"Kami mencoba mendapatkan lebih banyak perspektif suku Gweagal tentang apa yang terjadi," kata kurator pameran Ronald Briggs.

"Banyak catatan dan informasi yang kami simpan ini bersumber dari perspektif Eropa, padahal pemahaman mereka tentang budaya Aborigin pada saat itu sangat minim," jelas Ronald.

Pihak perpustakaan telah bekerjasama dengan keturunan suku Gweagal dalam menafsirkan kembali beberapa teks sejarah.

"Dengan banyaknya kutipan bahasa setempat oleh orang non-Pribumi, seringkali ada kebingungan tentang arti kata sebenarnya," tambahnya.

Simak berita menarik lainnya dari ABC Indonesia.