Kalimat Terakhir George Floyd Pria Pemicu Bentrok di AS

BBC Indonesia
Sumber :
  • bbc

 

Reuters
Demonstran menuju kantor polisi di mana petugas itu bekerja

 

Seorang pria kulit hitam berkata "saya tak bisa bernapas dan juga jangan bunuh saya" saat ditahan dan ditekan lehernya ke tanah dengan menggunakan lutut oleh polisi kulit putih.

Kematiannya menyebabkan protes di Minneapolis, Amerika Serikat.

Polisi menembakkan gas air mata, sementara para demonstran melemparkan batu dan menyemprotkan cat di mobil polisi.

Penyebabnya kematian seorang pria kulit hitam tak bersenjata, George Floyd, 46 tahun, di tangan polisi  yang direkam oleh sebuah video.

 

 

Di video itu leher Floyd diinjak dengan menggunakan lutut oleh seorang polisi dan terdengar Floyd berkata "saya tak bisa bernapas".

Sebanyak empat orang polisi dipecat sesudah video itu beredar, sementara wali kota berkata bahwa berkulit hitam bukanlah alasan untuk dijatuhi hukuman mati.

Kejadian ini mengingatkan kembali pada kasus Eric Garner yang dicekik oleh polisi di New York pada tahun 2014.

Kematian Garner menyebabkan seruan protes besar-besaran menghadapi kebrutalan polisi di Amerika dan menjadi penggerak utama gerakan Black Lives Matter.

 

Apa yang terjadi?

 

Protes bermula Selasa (26/5) sore saat ratusan orang turun ke perempatan lokasi terjadinya peristiwa. Peristiwanya sendiri terjadi pada Senin (25/5) malam.

Penyelenggara berupaya mempertahankan protes tetap berlangsung damai dan patuh pada penjarakan sosial terkait pandemi.

Para demonstran menyerukan yel-yel: "Saya tak bisa bernapas dan itu bisa menimpa saya".

Salah seorang pemrotes Anita Murray berkata kepada Washington Post: "Sebenarnya saya takut keluar rumah karena kita sedang di tengah-tengah pandemi begini. Tapi tak mungkin saya diam saja?"

Kerumunan ratusan orang itu lalu berjalan bersama ke kantor polisi tempat bertugasnya anggota polisi yang diduga bertanggung-jawab untuk pencekikan Floyd.

 

Getty Images
Salah satu demonstran Minneapolis

 

 

Reuters
Polisi menembakkan gas air mata sementara demonstran melempar batu

 

Mobil patroli kepolisian disemprot dengan cat dan ditulisi, para pemrotes lalu melemparkan batu ke kantor polisi. Polisi menembakkan gas air mata dan granat suara serta semprotan busa.

Seorang pemrotes menyampaikan kepada stasiun TV CBS: "Ini benar-benar buruk. Polisi harus mengerti, inilah iklim yang mereka ingin ciptakan."

Seorang lagi berkata: "Saya berlutut dan memberi tanda damai, tapi mereka menembakkan gas air mata ke arah saya."

Menurut polisi, seorang mengalami cedera tidak serius sesudah dipaksa menjauh dari area protes. Namun kepolisian tidak merinci hal itu.

 

Apa yang terjadi pada George Floyd?

 

Petugas kepolisian sedang menanggapi laporan penggunaan uang palsu, dan mereka mendekati Floyd yang sedang berada di kendaraannya.

Menurut polisi, ia diminta untuk menjauh dari kendaraannya dan secara fisik melawan petugas.

Pernyataan polisi menyebutkan: Petugas berhasil memborgol tersangka dan mencatat ia tampak mengalami tekanan medis.

Video yang diambil dari lokasi peristiwa tidak memperlihatkan bagaimana awal konfrontasi itu.

Video itu memperlihatkan seorang petugas polisi kulit putih menggunakan lututnya untuk menekan leher Floyd ke tanah.

George Floyd mengerang "tolong, saya tak bisa bernapas" dan "jangan bunuh saya" sementara itu orang-orang yang lewat menyerukan kepada para petugas untuk melepaskannya.

George Floyd lalu berhenti bergerak, dan ambulans tiba untuk membawanya ke rumah sakit. Tak lama Floyd meninggal di sana.

 

Apa tanggapan resmi?

 

Wali kota Jacob Frey mengatakan langkah untuk memecat pada petugas itu sudah tepat.

Katanya: "Berkulit hitam di Amerika bukan alasan untuk dibunuh. Selama lima menit kita menyaksikan petugas polisi kulit putih menekan lututnya ke leher seorang pria kulit hitam. Lima menit. Ketika kita mendengar seseorang minta tolong, kita seharusnya menolong."

Polisi Federal Amerika atau FBI menyelidiki kejadian ini dan akan menyampaikan temuan mereka kepada kejaksaan Minnesota untuk mencari kemungkinan adanya kejahatan federal.

Senator Minnesota Amy Klobuchar menyerukan adanya penyelidikan menyeluruh. Katanya: "Keadilan harus ditegakkan untuk pria ini dan keluarganya, keadilan harus ditegakkan di masyarkaat, keadilan harus ditegakkan di negara kita."

Banyak seruan agar para petugas ini dituntut dengan tuntutan melakukan pembunuhan.

Buku panduan kepolisian Minnesota menyatakan, di bawah kebijakan penggunaan kekerasan, petugas dilatih teknik untuk menekan leher dengan lutut tanpa harus menghambat aliran napas. Teknik ini digolongkan sebagai pilihan kekerasan yang tidak mematikan.

 

Mengapa kasusnya sangat sensitif?

 

Tuduhan kebrutalan polisi kerap disorot sejak gerakan Black Lives Matter. Ini bermula sesudah dibebaskannya petugas ronda lingkungan George Zimmerman sehabis ia menembak mati seorang remaja Afrika-Amerika Trayvon Martin bulan Februari 2012.

Kematian Michael Brown di Ferguson dan Eric Garner di New York tahun 2014 memicu protes massal.

"Saya tak bisa bernapas" menjadi seruan protes nasional sesudah Garner, seorang pria tak bersenjata, melontarkannya saat ditahan polisi dengan cara dicekik karena dituduh menjual rokok ketengan secara ilegal.

Petugas polisi Kota New York yang terlibat dalam pembunuhan Garner dipecat lima tahun kemudian, tapi tak ada yang dituntut hukuman.

Peristiwa terbaru kebrutalan polisi adalah penembakan terhadap seorang perempuan kulit hitam di rumahnya di Louisville oleh tiga orang polisi kulit putih dari Kentucky. Lalu ada pula penembakan seorang pria oleh petugas polisi di Maryland.

Kepolisian di Georgia juga dituduh mencoba menyembunyikan pembunuhan terhadap seorang pemuda kulit hitam yang gemar berolahraga lari, Ahmaud Arbery, yang ditembak sampai mati oleh anak dari seorang pensiunan polisi.

Paige Fernandez dari organisasi American Civil Liberties Union, berkomentar soal kasus terbaru di Minnesota ini: "Video tragis ini memperlihatkan sedikit sekali perubahan yang terjadi yang mungkin bisa menghalangi polisi mengambil nyawa orang kulit hitam."