Halo
Pembaca

VIVANetworks

News

Bola

Sport

Showbiz

LifeStyle

Otomotif

Digital

Ragam

Militer

Netizen

Lintas

Informasi

Kisah Anak Dipaksa Orang Tua Bertindak Seksual untuk Dijual ke Pedofil

Kamis, 2 Juli 2020 | 12:56 WIB
Oleh :
Foto :
  • abc
Sejak bulan Mei, delapan perempuan Filipina ditahan karena menjual jasa anak-anak mereka di internet dan 56 anak-anak diselamatkan pihak berwenang.

Tindakan memaksa anak-anak melakukan gerak seksual sudah menjadi bisnis online besar di banyak negara di Asia.

Filipina adalah salah satu pusat, dengan sekitar 300 ribu kasus terjadi sejak bulan Maret 2020.

Baca Juga

Kebanyakan alasannya adalah karena faktor kemiskinan, adanya kesempatan mendapatkan uang dengan mudah, tersedianya akses internet dan juga kemampuan berbahasa Inggris warga di sana.


Kebanyakan fasilitator ini memaksa anak-anak melakukan tindakan seksual yang kemudian ditayangkan online untuk yang mau membayar. (Supplied: International Justice Mission)

 

International Justice Mission (IJM) adalah sebuah organisasi yang membantu menyelematkan korban anak-anak dan membantu mereka membangun kehidupan normal sesudahnya.

Mereka memperkirakan 18 persen dari pedofil yang ada adalah pria di Australia.

Namun memperkirakan bahwa dalam 87 persen kasus di Filipina akan melibatkan perempuan yang bertindak sebagai fasilitator, dan kebanyakan adalah ibu dari anak-anak yang jadi korban.

"Ini sudah menjadi industri," kata Jacob Sarkodee, CEO sementara IJM untuk Australia.

"Kami menemukan banyak ibu atau sanak keluarga yang berusaha mencari kesempatan dan mendapatkan keuntungan besar dengan melakukan eksploitasi seksual, penyiksaan dan pemerkosaan terhadap anak-anak mereka.

"Ini adalah salah satu bentuk terburuk perbudakan modern yang pernah kami lihat."

Menurut Sersan Detektif Graeme Marshall dari AFP, hukum yang lebih kuat di berbagai negara termasuk Australia dan Filipina telah membuat penganiayaan seksual terhadap anak-anak berpindah ke online.

"Dulunya para pelaku ini akan melakukan perjalanan ke Filipina dan mereka akan melakukan tindakan yang disebut pelanggaram turisme seksual terhadap anak-anak," katanya.

"Sekarang semakin banyak negara Barat termasuk Australia memiliki hukum yang bisa mencegah para pedofil yang sudah diketahui untuk melakukan perjalanan."


Menurut pakar, para orang tua sering mengatakan bahwa mereka tidaklah melakukan tindak kejahatan apapun karena perilaku anak-anak mereka hanya terjadi secara online. (Supplied: International Justice Mission)

 

Menurut penelitian yang dilakukan IJM, para pelaku kejahatan seksual terhadap anak-anak adalah perempuan Filipina sekitar umur 27 tahun.

Beberapa diantaranya adalah nenek dalam keluarga atau sanak famili korban.

Dari 69 pelaku yang ditahan di Filipina sejak tahun 2018 dan sudah dinyatakan bersalah 70 persen diantaranya adalah perempuan.

Lihat artikel asli
Read more...
Topik Terkait
Saksikan Juga
Terpopuler