Halo
Pembaca

VIVANetworks

News

Bola

Sport

Showbiz

LifeStyle

Otomotif

Digital

Ragam

Militer

Netizen

Lintas

Informasi

Cerita Warga Indonesia Menjalani Lockdown Lebih Ketat di Melbourne

Selasa, 4 Agustus 2020 | 17:25 WIB
Oleh :
Foto :
  • abc
Kebanyakan warga Indonesia di Melbourne merasa tidak terlalu berdampak pada aturan pembatasan tahap keempat yang lebih ketat, karena sudah banyak diam di rumah sejak Maret lalu.

Kawasan metropolitan Melbourne memberlakukan aturan pembatasan yang lebih ketat untuk menekan angka penularan corona dengan menaikkannya ke tahap empat dan kini dinyatakan dalam status bencana.

Perubahan terbesar adalah larangan keluar di jam tertentu dan hanya diperbolehkan berada dalam radius lima kilometer dari tempat tinggalnya.

Baca Juga

ABC Indonesia telah bertanya kepada sejumlah warga Indonesia di kawasan metropolitan soal bagaimana kondisi dan perasaan mereka dengan peraturan yang ketat tersebut.

Pemberlakuan jam malam

Melbourne menjadi satu-satunya kota di Australia yang hanya boleh beraktivitas di luar dari pukul 5 pagi sampai 8 malam, dengan alasan berbelanja kebutuhan pokok, berolahraga, merawat atau menerima perawatan, serta untuk kerja di sektor yang sangat terbatas.

Kebanyakan warga Indonesia di Melbourne, seperti Nila Wati, yang tinggal di Dandenong, mengatakan batas keluar rumah jam delapan tidak terlalu berpengaruh bagi mereka.

"Saya yang berprofesi ibu rumah tangga jam 8 malam memang sudah tidak beraktivitas di luar rumah, hanya saja suami yang biasanya bekerja sampe malam jam 9," kata Nila.

"Menurut saya pribadi, aturan jam malam tidak berdampak apa-apa dengan pekerjaan dan aktivitas saya karena biasanya itu waktu saya berisitirahat," ujar Steven Saputra dari pusat kota Melbourne.


Warga Melbourne yang keluar setelah jam 8 malam hanyalah mereka yang bekerja di bidang-bidang tertentu, seperti perawatan atau sektor medis. (AAP: Erik Anderson)

 

"Karena setiap hari harus bangun jam 4:30 pagi, jadi diatas jam 8 malam week day, saya biasanya enggak keluar rumah, udah ganti pijama siap-siap ke pulau mimpi," ujar Yennie Bonnie dari Balwyn North.

Cucu Juwita di Weribee juga menyambut aturan "curfew" waktu beraktivitas di luar, karena ia berharap bisa mengurangi interaksi orang-orang meski merampas "kebahagiaan".

"Saya merasa kasihan dengan orang-orang muda yang sering pergi dan makan di luar, mereka pasti merasa terampas kebahagiaannya, apalagi kalau rumahnya di unit atau apartemen kecil, bisa jadi jenuh menghabiskan waktu malam yang panjang."

Seperti yang dirasakan oleh Amandeo Aderisan yang tinggal tepat di pusat kota Melbourne.

"Paling kangen makan Halal Snack Pack, biasanya baru mau makan itu sudah malam, kalau sore kurang asyik," ujarnya, yang sekarang sudah menyiapkan juga makanan di rumahnya.

Tapi, Brainly Daniel Sondakh dari Noble Park mengatakan aturan ini tidak masuk akal, menurutnya seharusnya diberlakukan di siang hari, di mana lebih banyak orang beraktivitas.


Ribuan toko dan tempat usaha telah dipaksa ditutup selama enam minggu, sejak 'lockdown' diperketat di Melbourne. (AAP: Daniel Pockett)

 

Beraktivitas hanya bisa sejauh lima kilometer

Warga Indonesia pemilik restoran, Juli Santoso di Carlton merasakan dampak dari pembatasan aktivitas lima kilometer bagi usahanya.

"Kami melihat daya beli dari pelanggan di kawasan pusat kota sudah agak melemah dan di kawasan suburb juga, orang-orang lebih berhati-hati untuk mengeluarkan uang," ujarnya.

Menurutnya minat yang turun ini tidak lepas dari sejumlah warga Indonesia yang kehilangan pendapatannya.

Ratna Lestari yang tinggal di kawasan South Yarra mengatakan batas lima kilometer itu sebenarnya masih luas.

Lihat artikel asli
Topik Terkait
Saksikan Juga
Terpopuler