Perang Dingin Masih Hidup di Asia, Ini Buktinya

picture-alliance/AP/Kyodo/Yoshitaka Sugawara
Sumber :
  • dw

Buntutnya sentimen nasionalisme menguat. Korsel mencoba mengusir hantu penjajahan, 1910-1945, dengan mengalakkan “dekolonialisasi anti Jepang.” Hubungan Cina dengan Jepang juga didominasi rasa nasionalistik.

Ketika kedua negara kembali menjalin hubungan diplomatik pada 1972, Mao Zedong mengatakan, tanpa invasi Jepang, kaum komunis tidak akan mungkin merebut kekuasaan. Permusuhan kedua negara sempat mereda, namun kembali menguat di era Jiang Zemin.

“Narasi tentang penindasan dan pengorbanan sangat penting bagi pembentukan identitas, dan ini semakin dibetoni lewat pendidikan dan budaya pop,” ujar Daniel Sneider, pakar Asia Timur di Stranford University, AS.

Artinya, Cina, Korea Selatan dan Korea Utara menyudutkan Jepang sebagai instrumen politik untuk merebut hati rakyat. “Para pemimpin di Beijing dan Seoul tidak cuma merawat ingatan sejarah untuk mengenang para korban, tetapi juga buat memetik keuntungan politik,” imbuh Ralph Cossa, bekas direktur lembaga pemikir AS, Pacific Forum, di Hawaii.

“Permohonan maaf kosong”

Pada saat yang sama Jepang iuga ikut merawat antipati di negeri jiran lewat kebijakannya sendiri. Hingga kini pemerintahan di Tokyo tidak banyak menunjukkan penyesalan atas invasi ke Cina, atau Pembantaian Nanjing 1937, dan menyepelekan beban sejarah perekrutan paksa perempuan sebagai budak seks.

Baru pada 2001, PM Junichiro Koizumi mengunjungi Cina dan secara verbal mengungkapkan penyesalan atas kekejaman Jepang di negeri bekas jajahannya itu.

Meski demikian, pemerintah saban tahun masih mengunjungi Kuil Yasukuni di Tokyo, yang mengagungkan penjahat perang Jepang. Biasanya setiap perdana menteri ikut mengingatkan tentang kekejaman imperalisme Jepang ketika berkunjung ke kuil tersebut, agar tidak memprovokasi jiran di barat.

Namun kebiasaan itu dihentikan oleh Perdana Menteri Shinzo Abe. “Di dalam ilmu pengetahuan, perilaku itu disebut sebagai upaya mengosongkan,” sejarah, kata sejarahwan Jerman, Weber. Dengan cara itu pemerintahan konservatif Jepang dinilai ingin memperlemah prinsip antiagresi yang dianut militer Jepang.

Kesamaan yang dilupakan

Penekanan pada rasa nasionalistik dan perbedaan ikut menghalangi negara-negara Asia Timur untuk menyelami kesamaan kultural dan menjadikannya batu loncatan menuju pendekatan dan rekonsiliasi.