Halo
Pembaca

VIVANetworks

News

Pilkada

Bola

Sport

Showbiz

LifeStyle

Otomotif

Digital

Ragam

Militer

Netizen

Lintas

Informasi

Faktor Agama Bisa Pengaruhi Hasil Pilpres AS, Seberapa Besar?

Rabu, 7 Oktober 2020 | 09:15 WIB
Oleh :
Foto :
  • bbc
Sekitar tiga perempat pemilih AS adalah Kristen.- BBC

"Tuhan menciptakan kita menurut gambar-Nya sendiri, jadi kita semua hanyalah satu orang."

"Dia mencintai kita, dan dia ingin kita bahagia satu sama lain, tidak terpecah."

Baca Juga

Rose Ortiz, pemilih pemula berusia 19 tahun, berbicara kepada saya melalui aplikasi Zoom dari kamar tidurnya di rumah keluarganya yang terletak di Charlotte, North Carolina. Topik yang dibicarakan saat itu adalah harapannya terhadap pemilihan presiden Amerika Serikat.

Dalam hitungan pekan, AS akan memasuki proses pemilihan presiden AS—yang menurut sebagian orang pemilihan umum paling penting dalam sejarah negara itu.

Dikelilingi poster musisi, Rose bercerita kepada saya dengan tenang dan sungguh-sungguh tentang iman Kristennya dan bagaimana ia merasa hal itu memengaruhi pilihannya dalam pemilu mendatang.

Meskipun menghabiskan waktu berminggu-minggu memikirkan siapa yang akan dipilih, Rose berjuang memilih salah satu capres mengingat keduanya punya afiliasi agama yang kuat.

BBC
Rose Ortiz akan memberikan suara untuk pertama kalinya pada November

 

Ia terkesan dengan Donald Trump sebagai presiden AS pertama yang menghadiri rapat umum anti-aborsi tahunan terbesar di Amerika pada bulan Januari.

"Sebagai seorang Kristen, Tuhan ingin tidak ada aborsi."

Rose mengatakan kepada saya, "Jadi ini adalah sesuatu yang saya setujui dari pihak Trump".

Meskipun Joe Biden beragama Katolik dan Rose punya keterkaitan dengan agama tersebut, ia merasa Biden perlu berbuat lebih banyak untuk terhubung dengan kaum muda Kristen.

Getty Images
Joe Biden mengatakan jiwa bangsa dipertaruhkan dalam pemilihan ini

Sabuk Injil AS

Di banyak negara, agama dan politik tidak mudah duduk berdampingan, tetapi di Amerika berbeda.

Di beberapa negara bagian ,seperti North Carolina, agama bisa sangat menentukan hasil pemilihan presiden.

Wilayah ini merupakan bagian dari `Sabuk Injil AS`, dan merupakan salah satu negara bagian kunci yang mengayun. Artinya, warga di negara bagian ini bisa memilih Trump atau Biden.

Untuk bisa terpilih kembali, Trump perlu menggaet suara warga di negara-negara bagian seperti ini. Ia menang besar di wilayah itu pada tahun 2016, mengalahkan Hilary Clinton dengan keunggulan hampir 4%.

Pemungutan suara tahun ini menunjukkan persaingan ketat. Pada saat berita ini ditulis, Biden unggul di North Carolina dengan kurang dari satu poin persentase.

Kedua calon presiden tampak jelas menempatkan agama di tengah-tengah pesan kampanye mereka.

Getty Images
Donald Trump mengatakan dia akan membela agama Kristen

 

Donald Trump ingin Amerika tahu bahwa dia adalah kandidat yang akan membela agama Kristen.

Saingannya, Joe Biden, mengatakan pemilihan ini adalah pertempuran untuk jiwa bangsa itu.

Hal itu masuk akal: lebih dari tiga perempat total pemilih beragama Kristen.

Pengaruh pemilih evangelis kulit putih pada 2016 adalah sesuatu yang banyak dibicarakan.

Exit poll menunjukkan lebih dari delapan dari 10 orang memilih Donald Trump saat itu, dan ini masih menjadi bagian penting dari basisnya.

Tetapi sebagai seorang Kristen kulit hitam, saya tahu bahwa Gereja itu beragam.

Mayoritas orang Kristen AS bukanlah evangelis kulit putih, dan suara-suara politik kiri semakin keras.

Jadi, selama beberapa bulan terakhir, saya telah berbicara dengan orang-orang yang biasanya tidak kami dengar, di Negara Bagian North Carolina yang jadi medan pertempuran .

Tahun ini, orang-orang Hispanik seperti Rose akan menjadi kelompok ras atau etnis minoritas terbesar di antara para pemilih, terrhitung lebih dari 13% pemilih yang memenuhi syarat.

Tetapi mereka juga cenderung tidak memberikan suara dibandingkan kelompok etnis lainnya.

Pusat Penelitian Pew menemukan bahwa "jumlah pemilih Hispanik yang tidak memberikan suara melebihi jumlah yang memilih di setiap pemilihan presiden sejak 1996".

Orang Kristen Hispanik sering disebut sebagai kelompok yang paling cenderung menjadi `swing voters` alias pemilih rasional yang pilihan politiknya bisa berubah bergantung pada ide atau gagasan tertentu. Potensi ini menempatkan mereka sebagai perhatian bagi kedua calon presiden.

Lihat artikel asli
Topik Terkait
Saksikan Juga
Terpopuler